opini

Melihat Jauh ke Dalam Diri: Lima Pesan Kehidupan dari Gubernur Sultra

Minggu, 24 Mei 2026 | 14:00 WIB
Andi Syahrir bersama Gubernur Sultra Andi Sumangerukka

Membangun yang megah itu mudah, yang sulit adalah merawatnya dengan konsisten. Jangan sampai kita bangga mampu “membeli gajah”, namun membiarkannya mati kelaparan hanya karena enggan mengurusnya.

Filosofi ini adalah refleksi mendalam atas realitas tata kelola pembangunan kita. Seringkali, kita begitu bersemangat menggelontorkan anggaran besar demi mendirikan fasilitas fisik yang megah, mewah, dan monumental. 

Namun ironisnya, setelah gunting pita usai, bangunan-bangunan itu perlahan berubah menjadi "monumen mati"—terbengkalai, rusak, dan akhirnya hancur tak terpakai.

Kita terjebak dalam sindrom mampu membeli "gajah" (proyek besar), tetapi gagal menyediakan "sepatunya" (keberlanjutan fungsi).

Padahal, esensi dari sebuah pembangunan bukanlah pada seberapa besar anggarannya, melainkan seberapa panjang asas manfaatnya bagi masyarakat. Merawat apa yang sudah ada sebenarnya tidak menuntut anggaran baru yang fantastis. Yang dibutuhkan hanyalah satu hal yang seringkali mahal harganya, yakni komitmen dan rasa memiliki.

Pemerintahan yang bijak adalah pemerintahan yang tidak hanya hobi memulai, tetapi juga setia merawat. Sebab, membiarkan fasilitas publik rusak karena kelalaian adalah bentuk pemborosan ruang dan anggaran yang paling nyata. Jaga apa yang telah dibangun, karena di sana ada hak rakyat yang harus terus hidup.

Jangan bangga bisa membangun fasilitas raksasa jika kita gagal menjaga hal-hal kecil di dalamnya. Kemampuan merawat adalah cerminan dari kematangan sebuah kepemimpinan.

 

Kelima, Metafora Kursi dan Rotan

Saat sebatang rotan telah dibilah, dibakar, dan ditekuk menjadi kursi, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi rotan yang lurus. Karakter manusia pun demikian: ia dibentuk, bukan mendadak jadi.

Filosofi ini memberikan gambaran tentang pentingnya fondasi pendidikan karakter. Rotan yang masih muda bersifat lentur, ia mudah diarahkan dan dibentuk. Namun, begitu rotan itu melewati proses panjang hingga mengeras menjadi sebuah kursi, bentuknya telah permanen. Mustahil mengembalikannya ke wujud semula tanpa mematahkannya.

Di dunia pendidikan dan pola asuh, anak-anak adalah rotan muda tersebut. Masa kanak-kanak dan remaja adalah fase krusial di mana jiwa mereka masih "lentur" dan siap menyerap apa saja.

Jika sejak dini mereka tidak dibiasakan dengan kedisiplinan, kejujuran, dan nilai-nilai kebaikan, maka setelah dewasa —saat mereka telah "menjadi kursi" di tengah masyarakat— tabiat dan kebiasaan buruk itu akan mengeras dan sangat sulit untuk diubah. Kebiasaan masa kecil adalah cetak biru masa depan mereka.

Membentuk manusia tidak bisa menunggu mereka dewasa. Menanamkan karakter mulia harus dimulai dari ruang-ruang kelas paling awal dan meja makan di rumah. Karena mendidik anak-anak adalah tentang membentuk "kursi" yang kokoh dan indah, agar kelak saat mereka memimpin dan memegang peran di masyarakat, mereka membawa kualitas terbaik yang tak lagi tergoyahkan.

Jangan terlambat menanamkan kebaikan. Karakter manusia seperti rotan. Jika sudah mengeras menjadi kursi, ia tidak akan bisa ditekuk kembali tanpa mematahkannya.

Halaman:

Tags

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

La Ode Darwin, Patarung Tanpa Lawan Tarung

Senin, 3 November 2025 | 13:04 WIB

Kolaborasi Kopdeskel Merah Putih dan BumDes

Rabu, 18 Juni 2025 | 05:53 WIB

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sultra

Rabu, 11 Juni 2025 | 04:59 WIB

GUBERNUR RESPONSIF ITU BERNAMA ANDI SUDIRMAN

Senin, 26 Agustus 2024 | 17:49 WIB