Jumat, 28 Agustus 2026

Melihat Jauh ke Dalam Diri: Lima Pesan Kehidupan dari Gubernur Sultra

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Minggu, 24 Mei 2026 | 14:00 WIB
Andi Syahrir bersama Gubernur Sultra Andi Sumangerukka
Andi Syahrir bersama Gubernur Sultra Andi Sumangerukka

Hati yang Sekadar Air Putih —murah dan rapuh— akan mudah tercemar. Saat orang lain berbuat satu kesalahan, ia akan melupakan seluruh kebaikan yang pernah ada. Baginya, satu noda merusak segalanya.

Hati yang sekaya dan semanis madu - memiliki benteng nilai yang kokoh. Ketika kesalahan datang, ia tidak akan menghancurkan hubungan atau melenyapkan budi baik yang telah terpupuk lama. Orang yang berhati bersih akan memilih untuk memaafkan kesalahan (membuang lalatnya) dan merawat kebaikan (mempertahankan madunya).

Orang yang berhati keruh membuang seluruh kebaikan demi satu kesalahan. Orang yang berhati bersih membuang satu kesalahan demi merawat ribuan kebaikan.

 

Ketiga, Pemimpin itu Pengorbanan

Menjadi pemimpin bukanlah tentang naik takhta untuk dilayani, melainkan turun ke arena untuk siap menghabiskan diri demi mereka yang dipimpin.

Sekali kaki melangkah dan takdir menetapkan seseorang sebagai pemimpin, sejak saat itulah hak-hak pribadinya telah selesai. Pemimpin adalah payung di kala hujan dan tameng di garis depan. Ia tidak lagi sepenuhnya milik diri sendiri atau keluarganya, melainkan telah menjadi milik rakyatnya.

Di jalan kepemimpinan, pengorbanan adalah menu sehari-hari.

Mengorbankan Perasaan. Pemimpin harus berlapang dada menerima kritik, bahkan siap mental ketika dedikasinya dibalas dengan caci maki. Baginya, pujian tidak membuatnya terbang, dan cacian tidak membuatnya tumbang.

Mengorbankan Keinginan Pribadi. Kepentingan publik selalu berdiri jauh di depan ambisi pribadi atau golongan. Kenyamanan diri adalah hal pertama yang harus dikesampingkan.

Mengorbankan Milik Sendiri. Baik itu waktu, pikiran, tenaga, hingga harta benda, semuanya dipertaruhkan untuk memastikan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.

Kepemimpinan sejati adalah jalan sunyi yang penuh riak. Ia adalah seni menderita demi kebahagiaan orang banyak. Sebab pada akhirnya, kehormatan seorang pemimpin tidak diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan, melainkan dari seberapa banyak yang telah ia korbankan.

Sekali ditakdirkan memimpin, ego harus mati. Pemimpin adalah mereka yang selesai dengan dirinya sendiri, lalu menyediakan dadanya untuk kritik dan menyerahkan hidupnya untuk pengabdian.

 

Keempat, Kita Mampu Membeli Gajah, Tapi Tak Mampu Membeli Sepatu

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

La Ode Darwin, Patarung Tanpa Lawan Tarung

Senin, 3 November 2025 | 13:04 WIB

Kolaborasi Kopdeskel Merah Putih dan BumDes

Rabu, 18 Juni 2025 | 05:53 WIB

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sultra

Rabu, 11 Juni 2025 | 04:59 WIB

GUBERNUR RESPONSIF ITU BERNAMA ANDI SUDIRMAN

Senin, 26 Agustus 2024 | 17:49 WIB

Terpopuler

X