Jumat, 28 Agustus 2026

Hindari Pernikahan Dini, Solusi Cegah Stunting

Photo Author
Redaksi, Rakyat Sultra
- Kamis, 7 Mei 2020 | 13:40 WIB
  Oleh: Andi Yaumil Bay Ramdayana Thaifur SKM.,M.Kes* Peristiwa stunting di Indonesia sudah bukan rahasia umum lagi. Cukup menyedihkan bahwa anak-anak kita, terutama di daerah tertinggal masih banyak yang mengalami stunting. Stunting sendiri merupakan salah satu keadaan gagal tumbuh yang dialami oleh anak di rentang usia 1000 hari pertama kehidupan atau dengan kata lain saat masih ada di dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Negara berkembang dengan akses layanan kesehatan yang minim, konsumsi gizi yang minor dan tidak variatif, serta edukasi orangtua yang rendah akan meningkatkan risiko stunting bagi anak yang dilahirkan. Sumber daya alam Indonesia yang melimpah ternyata tidak cukup untuk menurunkan kejadian stunting hingga saat ini. Kebanyakan kasus stunting terjadi disebabkan karena kekurangan protein. Apa kurangnya negara kita? Sumber protein hewani dan nabati beragam, salah satu negara agraris terbesar di dunia dan memiliki variasi makanan pokok yang melimpah. Ternyata sumber daya alam saja belum cukup. Perlu pengelolaan, manajemen serta edukasi masyarakat mengenai gizi yang seimbang, sehingga semua kebutuhan gizi yang diperlukan akan sampai ke piring mereka. Angka kasus stunting ditemukan lebih banyak di daerah dataran tinggi daripada dataran rendah. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan ketersediaan protein tertentu menjadi terbatas di wilayah tersebut. Namun perlu dipahami bahwa stunting bukan hanya masalah kekurangan nutrisi. Tentu harus dibedakan bahwa stunting dan gizi buruk adalah hal yang tidak sama. Anak yang stunting cenderung kerdil, pertumbuhan gigi lambat, sulit berkomunikasi dibanding anak seusianya. Edukasi mengenai ketersediaan gizi dan pola konsumsi telah banyak dilakukan oleh pemerintah, perguruan tinggi mitra dan bantuan lembaga internasional. Faktanya, angka stunting masih cukup menghawatirkan. Problematika stunting membutuhkan solusi yang langsung ke akarnya. Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan terutama anak gadis yang merupakan calon ibu yang akan melahirkan calon bayi. Peran Ibu dalam tumbuh kembang anak bahkan telah disebutkan dalam hadist Bukhari dan Muslim “didiklah anakmu, 25 tahun sebelum dia lahir“. Hadist itu sangat bermakna dalam pendidikan generasi. Mendidik calon anak tidak hanya dimulai saat dalam kandungan, tetapi dimulai pada saat mendidik calon pendidik itu sendiri. Sayangnya, ada sebuah tradisi di masyarakat kita tentang menikahkan anak gadis mereka di usia belia adalah hal yang wajar. Selain menghemat pengeluaran pendidikan yang berarti anak gadis mereka akan putus sekolah, mereka juga bisa membantu memasak di dapur dan membantu meringankan pekerjaan orangtua. Anak gadis yang terlalu cepat menikah akan kehilangan kesempatan untuk lebih berkembang, mematangkan emosi dan mandiri. Hal ini menyebabkan anak yang pertumbuhannya terhambat akan lahir dari anak gadis yang tidak siap menjadi Ibu. Padahal sebuah penelitian di Nepal baru-baru ini mengatakan bahwa ketika seorang Ibu memiliki pendidikan yang tinggi, maka tingkat kesehatan anak yang dilahirkan akan semakin bagus. Biasanya Ibu dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan menetap di wilayah yang lebih modern dan terpelajar dibandingkan Ibu dengan edukasi yang rendah banyak ditemukan di pedesaan. Anak-anak pedesaan lebih menderita karena stunting (44,6%) dan gizi buruk (14,2%) dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di perkotaan (26% stunting dan 11,4% gizi buruk). Intervensi stunting berupa Right Foods at The Right Time adalah proyek nasional di Negara Malawi. Distrik Ntchisi melakukan komunikasi perubahan sosial dan pemberian suplemen nutrisi berbasis lipid dalam jumlah kecil untuk anak-anak 6-23 bulan serta edukasi kepada para Ibu. TV nasional akan meningkatkan jumlah kampanye makanan dan perencanaan kehamilan yang baik, kunjungan mentor dari klinik di pedesaan ke wanita hamil, pemberian ASI dan pendidikan pola asuh anak. Konseling gizi ibu dan remaja putri efektif dalam mengurangi stunting pada masa kanak-kanak dengan didukung peningkatan praktik pemberian makan yang optimal pada anak di bawah usia 5 tahun. Petugas kesehatan masyarakat di garis depan dapat dilatih untuk memberi nasihat kepada ibu tentang praktik pemberian makan anak yang optimal dan hal ini dapat membantu mengurangi prevalensi stunting. Cerminan intervensi di Malawi ini mengisyaratkan bahwa seluruh kementerian harus terlibat, begitu pula dengan pihak swasta, LSM dan komnas perempuan. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Tentu kita harus melakukan hal yang sama baiknya dengan yang dilakukan oleh Malawi. Permasalahan sosial seperti pernikahan dini serta tingginya angka putus sekolah pelajar wanita di wilayah tertinggal harus lebih diperhatikan dan dimasukkan dalam agenda khusus yang berkaitan dengan pencegahan stunting. Menunda pernikahan dini harus menjadi yang terdepan dalam kebijakan pembangunan untuk perempuan dan masyarakat yang kurang beruntung secara keseluruhan. Selain itu, penggunaan vaksinasi neotetanus untuk kelompok gadis yang menikah pada usia termuda bisa menjadi solusi awal bagi penurunan jumlah bayi sakit. *Mahasiswa Program Doktor FKM UNHAS, Dosen FKM Universitas Dayanu Iksanuddin Baubau

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

La Ode Darwin, Patarung Tanpa Lawan Tarung

Senin, 3 November 2025 | 13:04 WIB

Kolaborasi Kopdeskel Merah Putih dan BumDes

Rabu, 18 Juni 2025 | 05:53 WIB

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sultra

Rabu, 11 Juni 2025 | 04:59 WIB

GUBERNUR RESPONSIF ITU BERNAMA ANDI SUDIRMAN

Senin, 26 Agustus 2024 | 17:49 WIB

Terpopuler

X