Jumat, 28 Agustus 2026

Ramadan Tahun Ini: Ikhtiar Penuh Pahala Meski Penuh Kendala

Photo Author
Redaksi, Rakyat Sultra
- Jumat, 24 April 2020 | 15:56 WIB
  OLEH: Indra Eka Putra* Serasa hambar menyambutmu kali ini, begitu gumam saya dalam hati. Mengapa tak selesai sebelum tamu agungku datang, atau mengapa tak selesai bulan suci ramadhan ini saja, baru dikau muncul wahai virus mendunia. Begitu ketusku dalam hati. Agh... bagaimanapun kondisinya, tentu kemampuan dan kualitas ibadahlah yang akan menentukan kesakralan dan pahala-pahala ramadhan kita kali ini, begitu kuakhiri gumamku. Sependek pengetahuan penulis puasa adalah salahsatu ibadah paling tua sejak adanya manusia selain qurban dan sholat (dalam tata cara masing-masing nabi). Adam misalnya dengan puasa ayyamul bidh 13,14,15, nabi Nuh ketika terombang ambing umatnya disuruh puasa, Nabi Musa juga puasa 40 hari yang diperintahkan juga sama umatnya, termasuk tradisi yahudi juga puasa 40 hari (meskipun waktunya dipilih-pilih dalam setahun) dan nasrani jika membaca disebagian riwayat nabi isa ada kewajiban puasa 1 tahun 50 hari. Nabi Yaqub juga mempuasai anaknya, pun dengan Nabi Yusuf juga melakukan puasa. Bahkan sekelas para filosof yunani seperti plato dan socrates itu berpuasa. Kata plato; “obat jasmani dan rohani itu puasa” sementara kata socrates “dalam diri manusia itu ada unsur penyembuh, bantulah menyembuhkan dirimu dengan puasa”. Jadi tradisi puasa sebagai salah satu ibadah paling tua memang panjang dan berkesan. Kata teman saya; si mbahnya filosof (maksudnya socrates) saja puasa masa kamu tidak, kan malu!!. Itulah mengapa pada setiap tradisi puasa ini khsususnya bagi kaum muslimin selalu ditunggu-tunggu dan sebagaimana lazimnya tradisi, puasa akan mempertemukan kita dengan salahsatu ibadah yang hanya ada di waktu ramdhan yaitu shalat tarawih dan witir. Bagi saya pribadi, setiap menjemput puasa tentu dengan sukacita yang gegap-gempita, bukan hanya pada fenomena keramaian kerabat dalam sholat tarawih tapi lebih dari itu kita menaruh kekhusuan khusus pada malam-malam terakhir bersama handaitaulan dalam hal i’tikaf. Itu mengasyikkan sekali. Tapi kali ini, dan ramdhan ini tentu menjadi beda. Ketika menyambut bulan suci ramadhan ditengah wabah virus korona dengan kebijakan pemerintah yang melarang warganya untuk berkumpul, beribadah jamaah bahkan sekedar bersentuhan (social distancing dan phisycal distancing). Itu juga tak bisa disalahkan, karena kebijakan itu adalah upaya atau ikhtiar pemerintah dalam rangka memutus penyebaran virus korona tersebut, dan jika berhasil tentu kondisi ini akan lebih cepat pulih. Saya berpandangan bahwa upaya pemerintah juga sebagai tanggung jawab amanah yang jika dijalankan dengan niat maslahat insha allah berbuah pahala, pun demikian dengan tingkat penerimaan masyarakat (ikut pengaturan pemerintah) bermakna ibadah sosial (al mutaadiyah abdhol min al qashirah). Nomena dan Fenomena Ramadan Umat muslim sedunia, selain haji yang selalu mempertemukan saudara seimannya itu adalah bulan ramadhan, itulah mengapa ramdhan itu bagi kaum muslim selalu ditunggu. Bukan sekedar kehebohan dan keramaian orang dalam beribadah namun pada hakikat dan esensi dari ramadhan itu sendiri yaitu pada sakralitas ritual-ritualnya seperti sholat tarawih bersama, subhuh berjamah, buka puasa bersama sampai pada bekerja saat puasa. Namun dengan adanya pandemi covid-19 atau wabah virus corona ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk sesemarak biasa meskipun pada esensi ibadahnya wallahu a’lam insha allah dapat kita pertimbangkan untuk melakukannya dirumah saja. Ada yang menarik dalam diskusi dengan kawan, bahwa apakah kau ingin menyalahkan tuhan dalam kondisi ini, saya kemudian tertegun dan mengingat dialog Al jubai (guru mu’tazila) dan imam hasan al asyari (pendiri mashab asyariah) tentang “menyalahkan tuhan” dimana al asyari bertanya kepada kepada gurunya al jubai; ‘hai guru, bagaimanakah jika seorang bayi meninggal dunia? Apakah dia masuk surga atau neraka? Sang guru menjawab ya..masuk surga tapi surga paling bawah (atau basement lah kalau istilah sekarang) karena dia belum punya pahala sambung al jubai, tapi guru, bagaimana kalau bayinya komplain nanti, bahwa kenapa tuhan matikan saya waktu bayi, saya juga mau surga firdaus. Lalu al-asyari melanjutkan bagaimana pula kalau preman-preman itu komplain juga, hei tuhan mengapa saya tidak dimatikan saja saat bayi biar saya bisa masuk surga juga. Kan tuhan tau saya akan besar jadi preman dan jahat. Lha kok saya tidak dimatikan saja waktu kecil. Singkat cerita al-jubai tidak bisa menjawab pertanyaan al asyari,, sehingga al asyari pergi dan mendirikan mazhab asyariayah sebagai antitesis dari mutazila.Jika dikaitkan dengan fenomena pandemi korona ini (dibulan suci ramadhan) sudah barang tentu dari miliaran manusia muslim ada yang berfikiran tentang “seandainya tuhan menyelesaikan wabah ini sebelum ramadhan atau setelahnya kita pasti bisa beribdah dan menyambut ramdhan dengan riang gembira seperti biasanya”. Tentu pertanyaan ini bukan untuk saya, itu domainnya para ulama kita, yang saya tahu bahwa jika ada hal demikian maka mengingatkan kembali kita tentang pergulatan mazhab akal dan wahyu, mazhab iktiar dan takdir sebagaimana mutazila dan asyariah, maturidi dan tahawiyah atau jabariyah dan qodariyah, atau teranyar sunni dan syiah. Yang ingin penulis sampaikan sebagai keyakinan adalah didalam semua fenomena pasti ada nomena. Didalam setiap eksistensi tentu ada esensinya. Kita, minimal saya pribadi dalam kondisi beribadah ditengah pandemi ini memfokuskan pada nomenanya (esensinya) ramadhan meskipun tak bisa dihindarkan kesedihan tentang fenomena “tak seperti dulunya” ramadan kita. Terkahir, jika kita memaknai kitab ashrorusyiam nya imam ghazali yang tidak terlalu tebal tapi penuh makna menyatakan bahwa sebenarnya segala sesuatu dalam alam raya ini berpuasa (binatang dan tumbuhan bahkan gunung dan lautan juga berpuasa) memang tak bisa disamakan, tapi puasa ini setengah dipaksakan oleh tuhan, dia wajib bagi muslim yang bertaqwa apapun dan bagaimanapun kondisinya. Hemat saya bahkan kondisi pandemi ini dapat menjadi “senjata baru” buat kita menuju insan kamil atawa kaum irfani. Dan bagi pribadi itulah pemaknaan penulis dalam al-baqarah-183. (*) Wallahu a’lam bisshawab. *Aktifis Muslim

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

La Ode Darwin, Patarung Tanpa Lawan Tarung

Senin, 3 November 2025 | 13:04 WIB

Kolaborasi Kopdeskel Merah Putih dan BumDes

Rabu, 18 Juni 2025 | 05:53 WIB

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sultra

Rabu, 11 Juni 2025 | 04:59 WIB

GUBERNUR RESPONSIF ITU BERNAMA ANDI SUDIRMAN

Senin, 26 Agustus 2024 | 17:49 WIB

Terpopuler

X