Jumat, 28 Agustus 2026

Covid-19 : Memupuk Solidaritas untuk Kemanusiaan

Photo Author
Redaksi, Rakyat Sultra
- Sabtu, 18 April 2020 | 18:15 WIB

-
  OLEH: A. Tirta Wahyu Pratama* Diteras musala, seperti biasa selepas salat zuhur, Pa Engko, kiai kampung berdiskusi dengan beberapa jemaah musala, sambil menikmati rokok tembakau racikannya. Dia tiba-tiba bergumam "Mengapa pejabat kita tiba-tiba gagap merespon penyebaran wabah corona," ? Salah seorang jemaah menimpali "mungkin pejabat kita tidak siap kiai dengan munculnya wabah ini, atau pejabat kita lagi dilanda virus panik", ujarnya sambil cengar cengir. “Dalam situasi seperti ini, pemerintah dan kita-kita ini harus lebih tenang menghadapi situasi, kita tidak boleh panikan, karena keputusan yang diambil pasti hasilnya buruk”, ujar Kiai Engko merespon jemaah lainnya. Sejak Covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) dan direspon oleh pemerintahan Jokowi dengan memberlakukan karantina mandiri maupun work from home, walau dengan tingkat kepatuhan publik yang rendah, tetapi itu sudah menunjukan bahwa soal ini (baca:covid-19) adalah masalah serius, bahkan sangat serius. Jenderal Tito Menteri Dalam Negeri bahkan mengatakan ini adalah perang, perang melawan pandemik global yang saat ini sudah membunuh jutaan orang diberbagai belahan dunia. Tutur Kiai Engko panjang lebar. “Terus apa yang mesti dilakukan pemerintah dan masyarakat?”, tanya jemaah lain. “memupuk solidaritas, meninggikan rasa percaya kita pada pemerintah. Ini saat yang tepat bagi kita untuk bersatu tanpa sekat ideologis demi menyelamatkan nyawa manusia”, jawab Kiai Engko sambil terus mengisap tembakaunya. Menurut Conni Rahakundini Bakrie (Kompas, 18 April 2020), pandemi Covid-19 setidaknya menyisakan tiga kedaruratan yang harus direspon secara cepat dan strategis oleh pemerintah. Pertama, krisis kesehatan masyarakat, Covid-19 telah mengifeksi setidaknya 2,2 juta kasus di dunia dan 6.000 kasus di Indonesia. Dari kasus tersebut angka kematian dan sembuh nyaris sebanding. Hal ini menunjukan bahwa virus mematikan harus ditanggulangi dengan cara-cara yang luar biasa pula. Kedua, krisis ekonomi, wabah covid-19 tidak saja menyisakan masalah kesehatan masyarakat, tetapi memporak-porandakan sektor ekonomi. Menurut IMF sektor perekonomian global telah memasuki tahap resesi, di mana semua negara menghentikan aktivitas perekonomian dalam rangka menekan persebaran covid-19. Indonesia melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 2,3 % dari target 5 % diawal 2020. Resesi ekonomi ini tentu membutuhkan kebersamaan, solidaritas dalam rangka kestabilan ekonomi Ketiga, krisis keuangan, pengelolaan keuangan melalui instrumen APBN/APBD yang sebelumnya diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional harus dialihkan untuk memperkuat stabilisasi pencegahan covid-19 ini, pemulihan kesehatan masyarakat, pemberian jaring pengaman sosial bagi masyarakat rentan miskin dan miskin serta upaya pemulihan usaha UMKM. Pergeseran belanja dalam APBN/APBD tentu akan mengubah struktur penggunaan anggaran yang semula untuk peningkatan ekonomi kini lebih fokus pada pencegahan covid-19. Pesan saya kepada jemaah sekalian, “menghadapi covid-19 maka diperlukan setidaknya dua hal agar kita secepatnya keluar dari krisis ini. Pertama, membangun kebersamaan, krisis yang melanda kita saat ini memerlukan kebersamaan sehingga masalah ini tidak saja menjadi urusan pemerintah semata tetapi keterlibatan berbagai unsur dalam masyarakat akan mempercepat krisis ini berakhir. Ruang-ruang publik harus diisi oleh nuansa teduh dan damai, informasi yang malang melintang diruang publik harus berisi narasi yang positif. Dengan demikian sektor ekonomi akan dapat dipulihkan dengan lebih cepat; kedua, kerjasama antar daerah, masing-masing pemerintah daerah harus mampu bekerjasama untuk memutus penyebaran covid-19 ini. Tukar menukar informasi serta pengalaman dalam penanganan dan pemulihan akibat dampak covid-19 ini menjadi penting untuk digerakan. Kerja sama antar daerah tidak saja pada pemutusan mata rantai penyebaran virus tetapi kerjasama dalam pemulihan dan penguatan ekonomi pasca covid-19 ini. Kita sedang berjuang, mari bergandeng tangan untuk Indonesia yang lebih baik. Proficiat! *Mahasiswa Pendidikan Geografi FKIP UHO, PMII Komisariat UHO

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Pendidikan, Demokrasi, dan Kesejahteraan

Jumat, 24 Juli 2026 | 14:07 WIB

La Ode Darwin, Patarung Tanpa Lawan Tarung

Senin, 3 November 2025 | 13:04 WIB

Kolaborasi Kopdeskel Merah Putih dan BumDes

Rabu, 18 Juni 2025 | 05:53 WIB

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sultra

Rabu, 11 Juni 2025 | 04:59 WIB

GUBERNUR RESPONSIF ITU BERNAMA ANDI SUDIRMAN

Senin, 26 Agustus 2024 | 17:49 WIB

Terpopuler

X