RAKYAT SULTRA.id-Krisis iklim global semakin berdampak pada kawasan pesisir Indonesia, terutama desa-desa yang ada di dekat pantai.
dampaknya tidak hanya terasa pada potensi hilangnya desa, namun juga hilangnya kehidupan normal anakk-anak pesisir akibat pembangunan yang abai terhadap lingkungan.
Laporan terbaru Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan, hampir seluruh anak di dunia kini terpapar risiko iklim
Sedikitnya 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus. Yakni, kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.
Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, menuturkan bahwa anak-anak berada di garis paling depan dalam menghadapi bencana ini.
"Sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian," ujar Mida, dikutip Senin (29/6).
Potret Kritis Jalur Pantura: Daratan yang Terus Hilang
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya tergambar jelas di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2026 mencatat, 65,8 persen wilayah pesisir telah mengalami erosi parah sejak tahun 2000 hingga 2024. Kondisi ini kian diperparah oleh fenomena penurunan muka tanah.
Tekanan lingkungan dan ekonomi di wilayah Pantura ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul kondisi psikologis anak-anak.
"Mereka terpaksa tumbuh dalam situasi yang mengancam kesehatan, pendidikan, dan masa depan," tambah Mida.
Desa-Desa di Kabupaten Demak Mulai Tenggelam
Salah satu wilayah yang berada dalam kondisi paling kritis adalah Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan data WALHI Jawa Tengah, dari 341 desa pesisir yang tersebar di 17 kabupaten/kota, sebanyak 96,6% di antaranya masuk dalam kategori rentan bencana iklim.
Kecamatan Sayung di Kabupaten Demak menjadi titik mati pertarungan melawan alam. Banjir rob telah merendam sedikitnya 1.266 hektarr lahan di wilayah tersebut.
Warga di Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah bahkan harus meninggikan rumah mereka setiap beberapa tahun sekali agar tidak tenggelam.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.