Jumat, 28 Agustus 2026

Pemilu 2024 bisa jadi pemilu AS paling sengit nan menghebohkan

Photo Author
Sitti Asnawati, Rakyat Sultra
- Selasa, 5 November 2024 | 11:35 WIB
Foto arsip - Calon presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, dalam foto 9 Agustus 2019, saat masih menjadi senator dan tengah berbicara di sebuah acara di Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat.
Foto arsip - Calon presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, dalam foto 9 Agustus 2019, saat masih menjadi senator dan tengah berbicara di sebuah acara di Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat.

Bisa bergejolak

Selisih suara mereka bahkan jauh lebih tipis dibandingkan dengan selisih suara dari berbagai jajak pendapat menjelang pemilu 2016 dan 2020.

Fakta itu menjadi petunjuk bahwa Pemilu 2024 akan berlangsung sengit dan mungkin bergejolak.

Kesengitan itu bisa mengulangi atau bahkan melampaui kesengitan Pemilu 2000 dan 2004 ketika George W. Bush mengalahkan Al Gore dan John Kerry.

Pemilu 2000 dan 2004 dianggap bisa dimenangkan siapa pun. John Kerry bahkan dianggap akan mengalahkan George Bush yang waktu itu berlaku sebagai petahana.

Sementara pada Pemilu 2000 ketika hasil Pemilu ditentukan oleh hasil suara di negara bagian Florida, pemenang Pemilu harus melibatkan intervensi Mahkamah Agung akibat begitu tipisnya perbedaan suara sehingga komisi pemilu tak bisa menyimpulkan siapa pemenangnya (too close to call).

Pemilu 2000 menjadi pemilu yang sangat kontroversial dan sangat membelah rakyat AS.

Dan suasana Pemilu 2000 kemungkinan terulang pada Pemilu 2024. Hasil berbagai jajak pendapat menjelang pemungutan suara pada kedua pemilu, juga sama-sama berselisih tipis.

Dalam pemahaman ini, jika Trump yang menang, mungkin tak akan ada gejolak besar di AS. Jika skenario ini yang terjadi, maka Kamala Harris mungkin mengambil sikap sama dengan Al Gore dan Kerry yang menerima kalah masing-masing pada Pemilu 2000 dan 2004.

Sebaliknya, jika Harris yang memenangkan Pemilu 2024, maka, berdasarkan pengalaman 2020 ketika Trump tidak menerima kalah dari Biden, maka politik AS bisa bergejolak lagi, yang mungkin lebih keras.

Padahal pada Pemilu 2020, baik dari hasil berbagai jajak pendapat, jumlah electroral vote maupun jumlah popular vote, Trump kalah cukup telak dari Biden.

Dengan skenario-skenario seperti itu, Pemilu 2024 menjadi momen yang sangat menentukan untuk wajah AS berikutnya, tidak saja dalam kaitannya dengan konsolidasi nasional dan kohesi sosial di AS, termasuk rasisme.

Tapi juga dengan bagaimana AS berhubungan dengan dunia luar, mengingat Trump dan Harris merangkul pendekatan dan kebijakan yang bertolak belakang satu sama lain.

Harris bakal merawat multilateralisme, sebaliknya Trump menjauhi multilateralisme.

Untuk itu, bagi dunia, jika Trump yang menang maka nafas sebagian besar dunia akan jauh lebih kencang ketimbang jika Harris yang memenangkan Pemilu ini. ANTARA/RS

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sitti Asnawati

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Terpopuler

X