Jumat, 28 Agustus 2026

Pemilu 2024 bisa jadi pemilu AS paling sengit nan menghebohkan

Photo Author
Sitti Asnawati, Rakyat Sultra
- Selasa, 5 November 2024 | 11:35 WIB
Foto arsip - Calon presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, dalam foto 9 Agustus 2019, saat masih menjadi senator dan tengah berbicara di sebuah acara di Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat.
Foto arsip - Calon presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, dalam foto 9 Agustus 2019, saat masih menjadi senator dan tengah berbicara di sebuah acara di Clear Lake, Iowa, Amerika Serikat.

Jakarta, Rakyatsultra.id - Kendati pemungutan suara dini sudah dilakukan sejak pertengahan Oktober lalu, rakyat Amerika Serikat (AS) serentak memberikan suaranya untuk memilih presiden, kepala daerah dan anggota legislatif yang baru pada Selasa pagi 5 November waktu setempat, atau Selasa malam WIB nanti.

Khusus pemilihan presiden, tahun ini mungkin menjadi Pilpres yang paling ketat dan sengit, yang bahkan melampaui kesengitan Pemilu 2000 ketika George W. Bush mengalahkan Al Gore dengan suara tipis sekali sampai mengharuskan adanya intervensi dari Mahkamah Agung.

Keyakinan bahwa Pemilu 2024 bakal sengit didasarkan kepada hasil jajak pendapat yang menunjukkan Kamala Harris, yang saat ini menjabat wakil presiden AS, dan Donald Trump, yang mantan presiden, bersaing ketat dalam selisih begitu tipis.

Tiga hari lalu laman majalah Newsweek mengungkapkan bahwa selisih suara Harris dan Trump bahkan lebih tipis ketimbang selisih suara hasil jajak pendapat untuk Pemilu 2016 ketika Trump mengalahkan Hillary Clinton dan Pemilu 2020 ketika Trump dikalahkan Joe Biden.

Secara umum, dari berbagai jajak pendapat, Harris memang mengungguli Trump. Namun keunggulan itu tipis sekali.

Menurut situs analisis jajak pendapat FiveThirtyEight, Harris unggul 1,2 poin persen pada angka 48 persen, dibandingkan Trump pada 46,8 persen.

Sebaliknya, RealClearPolitics, menyimpulkan Trump unggul tipis 0,3 poin persen pada 48,4 persen, dibandingkan dengan Harris pada 48,1 persen.

Itu jajak pendapat yang hasilnya dipublikasikan pada 1 November. Angka-angka itu tetap sama ketat dengan hasil jajak pendapat yang dipublikasikan sehari sebelum pemungutan suara mulai Selasa malam WIB nanti.

Bahkan, NBC News dan Emerson menyatakan kedua calon presiden sama kuat pada angka 49 persen.

Sejumlah hasil jajak pendapat lain menunjukkan Harris unggul tipis, termasuk New York Times/Sienna yang menyebutkan sang wakil presiden unggul tipis di sejumlah negara bagian suara mengambang yang selalu menjadi penentu kemenangan pemilu.

Jajak pendapat lain seperti ABC News/Ipsos dan Forbes/HarrisX pada 4 November, menunjukkan Harris unggul tipis tiga dan satu poin persen dari Trump.

Angka itu jauh lebih tipis dengan selisih suara dari jajak pendapat Hillary Clinton dan Trump pada 2016 ketika Clinton unggul sampai rata-rata 4 poin persen, dan hasil jajak pendapat Joe Biden dan Trump pada 2020 di mana Biden unggul 7-8 poin persen.

Jika keunggulan Biden ditutup dengan kemenangan pada Pemilu 2020, maka keunggulan Clinton berakhir dengan kekalahan pada Pemilu 2016.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sitti Asnawati

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Terpopuler

X