sultra-raya

Dokter Baru Unusa Dilarang Kehilangan Empati di Tengah Teknologi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:31 WIB

“Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” katanya.

Dia juga meminta para dokter memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien.

Menurut Tri Yogi, karakter tersebut harus menjadi identitas dokter lulusan Unusa. Kemampuan klinis memang penting, tetapi perilaku dokter ketika berhadapan dengan pasien juga menentukan kualitas pelayanan.

Prof Yogi mengatakan, perkembangan teknologi membuat dokter tidak bisa berhenti belajar setelah memperoleh gelar profesi. Para dokter baru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar mampu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar teknologi hanya menjadi alat pendukung, bukan pengganti hubungan manusia antara dokter dan pasien.

Para dokter baru yang selanjutnya menjalani internship dan bertugas di berbagai fasilitas kesehatan juga diminta menjaga nama baik almamater.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Prof Yogi turut menyampaikan apresiasi kepada orang tua para dokter baru yang telah mendampingi pendidikan mereka. Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan kedokteran tidak terlepas dari dukungan keluarga.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini