sultra-raya

Rantai Dipotong Prabowo, Pupuk Indonesia Langsung Bekerja Maksimal

Selasa, 28 Juli 2026 | 08:41 WIB

Ada proses berikut, diperiksa berlapis dari kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai pusat. Selesai? Belumlah, disahkan kepala dinas. Setelah itu barulah alokasi diturunkan kembali sampai ke nomor induk tiap petani. Pembayaran lewat Kartu Tani, lewat bank, lewat distributor dan lewat kios.

Satu simpul putus, semua berhenti. Dan, simpul memang kerap putus. Itulah sarang tempua. Bukan untuk melindungi, melainkan untuk menyulitkan pupuk sampai ke tangannya. Dalilnya, pengawasan.

Rantai Diputus, Harga Diturunkan

Lalu datang keputusan yang lurus. Lebih dulu sengkarut yang membelit kaki itu diputus. Ratusan aturan yang tak perlu dibuang. Sebagai gantinya, satu saja, Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025. Kemudian disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.

Tak satu dua, tak selesai memperbaiki aturan saja. Sesudah kaki lepas, giliran harga. Pada 22 Oktober 2025, atas perintah Presiden, harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi diturunkan 20 persen, lewat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117 Tahun 2025. Baru pertama kali dalam sejarah program pupuk bersubsidi dan tanpa menambah beban APBN, melainkan dari efisiensi industri dan perbaikan tata kelola. Urea kini Rp1.800 per kilogram, NPK Rp1.840.

Harga turun itu bisa rupanya. Dan, pemerintah melakukannya. Yang terkesan sebelum ini, jika ada anggapan pupuk akan diselewengkan, paku di pintu pagar yang diperbanyak. Aturan dibuat berlapis. Benar juga, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah. Disikat habis oleh Prabowo.

Yang Petani Rasakan

Perubahannya terasa sampai ke kios. Syarat administratif yang berbelit dihapus. Petani terdaftar cukup menunjukkan KTP atau Kartu Tani. Verifikasinya digital serta seketika lewat aplikasi i-Pubers. Waktu tebus yang dulu memakan 30 sampai 60 menit, bahkan bisa seharian, kini tinggal lima menit, sebuah efisiensi hingga 90 persen.

Biaya produksi ikut turun dalam kisaran ratusan ribu rupiah per hektare tiap musim tanam. Celah bocor pun dipersempit. Setiap penebusan difoto dengan geo-tagging yang merekam lokasi dan skema Titik Serah memangkas jalur panjang yang dulu rawan diselewengkan. Inilah yang mempersempit ruang pupuk membelok ke kebun sawit atau ditangkap di jalan.

Jangkauannya meluas bagi lebih dari 16 juta petani, dengan sekitar 14,1 juta nomor induk kependudukan terdaftar untuk sektor pertanian. Hasilnya, sepanjang 2025 pupuk bersubsidi yang tersalur mencapai 8,11 juta ton, naik 10,68 persen. Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyebut serapan pupuk melonjak dari sekitar 6 juta ton menjadi 9 juta ton per tahun dan produksi pertanian naik hingga 8 persen.

Tentu, tak semua bertepuk tangan. INDEF mengingatkan, lonjakan produksi padi 2025 sebagiannya terbantu oleh iklim yang menguntungkan, bukan semata perubahan struktural, sehingga keberlanjutannya masih harus dibuktikan lewat musim-musim berikutnya.

Dapur Pupuk Indonesia

Di belakang semua ini berdiri Pupuk indonesia Grup, produsen urea terbesar di Asia, Timur Tengah dan Afrika Utara, dengan kapasitas produksi sekitar 14,8 juta ton pupuk per tahun. Grup ini memproduksi lima jenis pupuk, Urea, NPK, ZA, SP-36 dan Organik, di samping amoniak serta produk petrokimia lainnya. Grup menaungi sembilan anak usaha, lima di antaranya produsen pupuk.

Pupuk Kaltim di Bontang, produsen urea terbesar negeri ini, mencatat produksi 6,67 juta ton pada 2025. Ini, terdiri dari urea 3,58 juta ton, NPK 328 ribu ton dan amoniak 2,77 juta ton. Petrokimia Gresik, produsen NPK terlengkap, memproduksi 4,68 juta ton pupuk, naik dari 4,47 juta ton pada 2024. Pusri Palembang, pabrik urea pertama Indonesia yang berdiri pada 1959, berkapasitas urea sekitar 2,62 juta ton dan tengah menjalani revitalisasi pabrik III-B. Pupuk Iskandar Muda di Aceh memproduksi urea dan NPK, sementara Pupuk Kujang di Cikampek memproduksi urea, NPK, serta katalis. Empat anak usaha lain menopang dari sisi niaga, logistik, pangan, dan konstruksi.

Di sinilah peran Danantara sebagai bos PT Pupuk indonesia. Langkah yang dilakukan bukan hanya memperbaiki tata kelola niaga, rantai pasok, tapi membersihkan sistem kerja dan manajemen di dalam. Danantara memainkan gunting.

Pada 2025, grup ini masih menggendong 57 entitas. Akhir 2026, ditargetkan tinggal 17. Pada 2027, disisakan 15 saja. Sekitar 42 dipangkas, digabung atau dibubarkan, bertahap. Ini tentu di luar 5 pabrik pupuk, urat nadi Pupuk Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB