Sementara, 2045-2060 merupakan fase akselerasi dan keberlanjutan dari ekosistem hidrogen nasional, sehingga ditujukan untuk target jangka panjang.
“Untuk jangka panjang, kita bergerak dan ingin menjadi pemain utama, pusat ekonomi hidrogen global agar berada di Indonesia,” ujar Eniya.
Secara keseluruhan, Eniya menuturkan, pengembangan ekosistem hidrogen adalah untuk mewujudkan kedaulatan energi dengan meminimalkan ketergantungan bahan bakar fosil untuk meningkatkan keamanan energi.
Untuk mencapai target dekarbonisasi melalui pengembangan pasar hidrogen domestik, serta memperluas ekspor hidrogen dan turunan hidrogen ke pasar internasional dengan memanfaatkan keunggulan Indonesia sebagai negara maritim.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan biaya penggunaan hidrogen pada kendaraan besar saat ini masih lebih mahal ketimbang solar non-subsidi. Namun, ia menaksir harganya akan menjadi lebih bersaing dalam waktu dekat.
Bahlil menjelaskan pihak kementerian telah mengkaji hitungan biaya penggunaan hidrogen untuk kendaraan besar. Hasilnya, biaya operasional hidrogen memang masih di atas bahan bakar B50 non-subsidi.
"Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO—non-PSO itu artinya yang industri—itu kurang lebih sekitar Rp 18.600 (per liter). Kalau pakai bus besar, 1 liter itu bisa untuk 3,5 sampai 4 kilometer. Kalau pakai hidrogen ini berapa? Ternyata masih di atas harga B50, hidrogen masih agak lebih mahal," jelas Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Biaya operasional ini, kata dia, menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan dalam konteks transisi energi. Ia menilai harga akan menjadi jauh lebih murah ketika teknologi yang tepat dan efisien berhasil ditemukan.
"Keyakinan saya, dengan perang yang terus terjadi, geopolitik tidak menentu, serta tidak mudah lagi mendapatkan minyak di blok-blok baru, maka tidak lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dibandingkan sumber-sumber BBM minyak lainnya," ungkapnya.
Ia menambahkan, upaya transisi ini merupakan tonggak penting bagi Indonesia meskipun diakuinya tidak mudah. "Tapi kalau kita sudah mampu menemukan teknologi yang lebih efisien, saya yakin ini akan laku," ucap Bahlil.