Jumat, 28 Agustus 2026

Nikel Jadi Modal Indonesia Produksi Baterai, Masih Ada Potensi meski LFP kian Menguat

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:40 WIB

"Ya kan dengan adanya Indonesia Battery Corporation (IBC) sebenarnya tujuannya untuk membuat sel baterai kalau kita lihat. Hanya kan memang IBC itu kan mundur ya, dari yang tadinya direncanakan 2024 terus sekarang mundur ke 2027 kalau saya enggak salah,” ungkap dia.

Ia menilai tantangan Indonesia saat ini lebih banyak berkaitan dengan kecepatan eksekusi pembangunan industri baterai.

Fabby menilai Indonesia harus memastikan pembangunan industri baterai tidak berhenti pada satu teknologi saja. Dengan perkembangan LFP dan munculnya teknologi baru seperti solid-state serta sodium-ion, strategi industri perlu disusun dengan mempertimbangkan arah pasar dalam jangka panjang.

Nikel Indonesia masih Punya Prospek

Pandangan mengenai prospek nikel Indonesia juga disampaikan Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi.

Menurutnya, besarnya pasar kendaraan listrik global membuat baterai berbasis nikel masih memiliki ruang untuk berkembang meski LFP semakin banyak digunakan.

"Nah, saya kira pasar dari konsumen mobil listrik itu kan akan besar sekali kalau seluruh dunia itu. Nah sehingga baterai yang digunakan tidak hanya LFP, tapi juga baterai nikel juga. Saya kira perusahaan di Amerika itu menggunakan dua juga, ada nikel ada LFP tadi gitu ya. Sehingga menurut saya kalau Indonesia memang mau mengembangkan baterai listrik dari nikel saya kira enggak masalah, masih punya prospek yang cukup bagus,” ungkapnya.

Menurut Fahmy, Indonesia memiliki keunggulan karena mempunyai bahan baku nikel sendiri. Karena itu, pengembangan baterai berbasis nikel dinilai masih layak dilanjutkan.

"Nah masalahnya kalau nikel kan kita punya apa bahan bakunya gitu ya. Kalau LFP tadi itu kan kita enggak punya bahan bakunya tadi sehingga barangkali akan mahal dan kurang menarik bagi investor,” jelasnya.

Fahmy juga menilai pergeseran menuju LFP belum menjadi ancaman serius bagi industri nikel Indonesia selama permintaan kendaraan listrik global terus tumbuh. Namun, ia mengingatkan Indonesia perlu meningkatkan efisiensi industri baterai berbasis nikel agar mampu bersaing dengan teknologi LFP.

"Nah saya kira pengembangan baterai listrik dengan menggunakan nikel itu tetap saja dilakukan. Tetapi bagaimana pengembangan tadi dapat lebih efisien dan kalau kemudian harus bersaing dengan harga yang lebih murah atau ada yang lebih menarik sebagai competitive advantage dibanding LFP ya enggak masalah. Jadi yang perlu sekarang dikembangkan adalah bagaimana ekosistem industri baterai listrik dari hulu sampai hilir. Nah masalahnya kan Indonesia belum mengarah ke sana gitu ya, belum terintegrasi,” tukas dia.

Hilirisasi Harus sampai Sel Baterai

Fahmy menilai Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai pemasok bahan baku. Menurutnya, hilirisasi nikel perlu diarahkan hingga menghasilkan baterai yang dapat digunakan dalam industri kendaraan listrik.

"Saya kira kalau potensi baterai listrik dari nikel terutama, itu saya kira masih cukup besar baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk diekspor. Pada saatnya kan pengembangan mobil listrik atau kendaraan listrik itu kan cukup pesat dan permintaannya cukup besar tadi. Nah sehingga prospek dari baterai listrik yang dari nikel pun dia akan punya prospek yang cukup bagus,” tukasnya.

Menurutnya, pengembangan tersebut perlu dilakukan dalam satu ekosistem agar nilai tambah yang diperoleh Indonesia semakin besar.

"Sehingga bagaimana pengembangan hilirisasi nikel tadi itu bisa menghasilkan sampai baterai listrik, kemudian baterai listrik akan digunakan sebagai komponen utama mobil listrik tadi, dalam satu ekosistem industrialisasi. Tidak seperti sekarang, industrialisasi nikel itu kan sangat terbatas pada smelterisasi, dan itu hanya menghasilkan produk turunan pertama kedua kemudian diekspor tanpa memberikan nilai tambah yang cukup besar,” jelasnya.

Fahmy pun menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi produsen sel baterai, bukan hanya pemasok bahan baku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB
X