Ambeg Paramarta sebagai Etika Kebijakan
Abdy menjelaskan, Ambeg Paramarta tidak seharusnya hanya dipahami sebagai ungkapan filosofis dari kebudayaan Jawa kuno.
Menurutnya, nilai tersebut perlu diwujudkan sebagai karakter dalam menjalankan pemerintahan.
Falsafah itu, kata dia, mengandung kecerdasan dan kearifan pemimpin dalam membedakan persoalan yang benar-benar penting dan mendesak bagi rakyat dengan hal-hal yang tidak menjadi prioritas utama.
Di dalamnya juga terdapat tuntutan keberanian moral untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan politik golongan.
Dalam kerangka perjuangan kebangsaan yang disampaikan PA GMNI, Pancasila ditempatkan sebagai pedoman pembangunan.
Sementara Trisakti menjadi orientasi dalam mewujudkan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
Adapun Marhaenisme diposisikan sebagai semangat keberpihakan kepada rakyat kecil, sedangkan Ambeg Paramarta menjadi etika dalam menentukan prioritas kebijakan.
"Dengan jalan itulah Indonesia dapat menjaga kedaulatan politik, memperkuat kemandirian ekonomi, membangun kepribadian kebudayaan, memulihkan kepercayaan publik dan demokrasi, serta semakin mendekati tujuan kita dalam bernegara, mewujudkan masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.