"Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga pengabaian tugas FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia," tegas UEFA.
Gelombang penolakan kemudian diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang sama-sama menyatakan keberatan terhadap proposal tersebut.
Dalam proposal awalnya, FIFA berencana memisahkan bisnis komersial berbagai turnamen, termasuk Piala Dunia pria, Piala Dunia wanita, serta Piala Dunia Antarklub, ke dalam sebuah anak perusahaan baru.
Salah satu investor utama yang disebut dalam rencana tersebut adalah perusahaan investasi asal New York yang didirikan Joshua Kushner, adik Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Keterlibatan investor swasta itu memicu kekhawatiran bahwa turnamen paling bergengsi di dunia akan lebih berorientasi pada kepentingan bisnis dibanding kepentingan olahraga.
Meski Infantino masih memiliki kesempatan mencalonkan diri untuk satu periode lagi sesuai statuta FIFA, kegagalan proyek ini dinilai menjadi pukulan besar bagi kepemimpinannya.
Selama ini posisinya memang relatif aman setelah terpilih tanpa lawan pada 2019 dan 2023. Namun, penolakan terbuka dari pejabat internal FIFA, ditambah ancaman boikot dari berbagai konfederasi, membuat masa depan politiknya sebagai Presiden FIFA mulai dipertanyakan.
Pemilihan presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang di Rabat, Maroko, sementara batas pencalonan akan ditutup pada 18 November.