Jumat, 28 Agustus 2026

Self-Love Bukan Berarti Narsis, Ini Penjelasan Ahli Psikologi

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Rabu, 22 Juli 2026 | 13:05 WIB

RAKYAT SULTRA.id-Konsep mencintai diri sendiri atau self-love semakin banyak diperbincangkan dalam kehidupan saat ini. Berbagai kampanye di media sosial mengajak masyarakat untuk menerima diri, menghargai proses pribadi, serta menjaga kesehatan emosional.

Namun, mencintai diri sendiri tidak selalu berarti menempatkan diri sebagai pusat dari segala hal. Tanpa pemahaman yang tepat, konsep self-love justru dapat disalahartikan sebagai pembenaran terhadap perilaku yang terlalu mementingkan diri sendiri.

Dalam psikologi, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara cinta diri yang sehat dan narsisme. Keduanya mungkin terlihat mirip dari luar karena sama-sama berkaitan dengan perhatian terhadap diri sendiri, tetapi memiliki dasar perilaku dan dampak yang berbeda.

Cinta diri yang sehat mendorong seseorang untuk menerima kekurangan, menghargai kemampuan diri, serta tetap mampu membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Sementara itu, narsisme lebih berkaitan dengan kebutuhan berlebihan akan pengakuan, perhatian, dan rasa superior dibandingkan orang lain.
 
 

Memahami perbedaan keduanya penting agar seseorang dapat merawat dirinya dengan cara yang tepat tanpa kehilangan empati terhadap lingkungan sekitar.

Dirangkum berdasarkan wawasan psikologi dan filsafat dari University of Wollongong Australia, berikut penjelasan mengenai batas antara cinta diri sejati dan narsisme yang perlu diketahui.

1. Perawatan Diri Bukan Pemanjaan Diri

Salah satu fondasi cinta diri yang sehat adalah kemampuan merawat diri secara sadar. 

Merawat diri bukan berarti memanjakan diri setiap saat, melainkan memahami kebutuhan fisik dan emosional Anda dengan bijak. 

Hal ini termasuk menjaga pola makan, tidur yang cukup, serta menjaga jarak dari hubungan yang merugikan.

Bentuk perawatan diri juga mencakup disiplin menjalani hal-hal yang sulit namun bermanfaat, seperti menyelesaikan tanggung jawab, mengelola stres, dan menata waktu. 

Dalam cinta diri sejati, Anda tetap menghadapi kenyataan hidup dan tidak terus-menerus mencari kenyamanan instan.

Sebaliknya, narsisme sering kali mengarah pada perilaku impulsif demi kesenangan pribadi. Pemanjaan diri tanpa batas bisa menjadi bentuk pelarian dari ketidaksanggupan menghadapi diri sendiri secara utuh. Inilah salah satu perbedaan mendasar antara cinta diri dan sikap egois.

2. Penerimaan Diri Tanpa Menutup Diri dari Perubahan

Menerima diri adalah langkah penting dalam cinta diri. 

Ini berarti Anda bisa melihat diri secara utuh termasuk kelemahan dan kekuatan tanpa menghakimi atau merendahkan. 

Penerimaan bukan berarti menyerah, tetapi menjadi titik tolak untuk tumbuh dan berubah secara sadar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB
X