"Paling tidak Indonesia bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta, tapi beliau justru keliling Asia Tengah untuk kunjungan yang sifatnya rutin," kata Dino.
Lebih jauh, Dino mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran memiliki hubungan diplomatik yang telah terjalin lama dan selama ini berjalan baik tanpa konflik berarti.
Karena itu, kehadiran delegasi resmi Indonesia dinilai semestinya menjadi simbol persahabatan kedua negara sekaligus menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menegakkan hukum internasional.
"Kita seakan melupakan bahwa Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dengan hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara," ucapnya.
Menurut Dino, kehadiran delegasi indonesia juga seharusnya menjadi bentuk penegasan bahwa pembunuhan Ayatollah Khamenei merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional.
"Kehadiran delegasi resmi Indonesia dalam acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bahwa aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yang melanggar hukum dan norma internasional," katanya.
Di akhir pernyataannya, Dino mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menggaungkan prinsip bebas aktif dalam pidato, tetapi juga berani menunjukkan sikap ketika menghadapi situasi internasional yang sensitif.
"Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah diplomasi berprinsip, bukan diplomasi sungkan," tutup Dino.