Jumat, 28 Agustus 2026

Azan Terakhir Bilal yang Membuat Semua Orang Menangis

Photo Author
Redaksi, Rakyat Sultra
- Minggu, 26 April 2020 | 05:22 WIB
Ilustrasi

Tak ada hari paling menyedihkan bagi Bilal bin Rabah selain hari itu. Bukan saat dia dicambuk oleh majikannya Ummayah bin Khalaf, hingga punggungnya hancur. Bukan pula ketika dia dibakar terik gurun dan ditimpa batu besar. Atau saat lehernya diikat dan diarak keliling Makkah bagai hewan.

Hari itu 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, atau 8 Juni tahun 632 Masehi. Rasulullah SAW meninggal dunia. Bilal merasa kehilangan semuanya. Sosok seorang Nabi, pemimpin umat, pembebas, dan sahabat terbaiknya.

Semasa Rasulullah SAW hidup, setiap hari Bilal mengumandangkan azan. Suaranya merdu. Mengalun di atas langit Madinah. Seakan mengetuk setiap pintu rumah. Mengajak orang untuk sujud bersama menghadap Rabbnya.

Cuma tiga hari Bilal sanggup mengumandangkan Azan setelah Rasulullah SAW wafat. Bilal selalu berhenti pada kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah". Betapa sedihnya Bilal saat mengucapkan kalimat itu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia selalu menangis tersedu-sedu sebelum bisa menyelesaikan azan.

Bilal kemudian menghadap Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Dia meminta izin untuk tidak lagi mengumandangkan azan. Bilal tak sanggup menjadi muazin selain untuk salat yang diimami Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, tak pernah lagi terdengar kumandang azan yang merdu dari Bilal bin Rabah.

Saat Umat Islam hendak merebut Syam. Bilal meminta izin Khalifah Umar bin Khattab untuk ikut dalam rombongan pasukan Muslim. Dengan berat hati Umar pun mengizinkan Bilal berangkat.

Dalam Buku Para Sahabat Nabi yang ditulis Dr Abdul Hamid as-Suhaibani dan diterbitkan Penerbit Darul Haq, disebutkan suatu ketika, Khalifah Umar mengunjungi Syam. Di sana dia bertemu Bilal kembali.

Para sahabat meminta Umar membujuk Bilal agar mau mengumandangkan azan walau hanya untuk satu kali salat di Syam. Maka Bilal kemudian memenuhi permintaan Sang Khalifah. Dia naik ke atas menara dan mengalunlah azan dari muazin kesayangan Rasulullah itu di Syam.

Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu. Begitu juga para sahabat dan orang-orang Muslim di sana tak kuasa menahan tangisnya mendengar suara Bilal yang begitu dirindukan. Mengingatkan mereka kembali ke zaman Rasulullah SAW yang sangat mereka cintai.

Suatu hari Bilal yang telah tinggal di Syam bermimpi bertemu Rasulullah. Kerinduannya memuncak. Dia segera pulang ke Madinah.

Bilal menangis di Makam Rasulullah. Dia kemudian mengunjungi cucu Nabi, Hasan dan Husein. Dipeluknya dua pemuda kesayangan Nabi itu dengan penuh haru. Keduanya meminta Bilal mengumandangkan azan.

"Kami ingin mendengarkan azan-mu, hai muazin Nabi, sebagaimana pada masa Rasulullah."

Ibnu Katsir menuliskan dalam kitabnya al-Bidayah wan Nihayah yang dikutip nu.or.id, Bilal mengabulkan permintaan keduanya. Dia naik ke menara dan berkumandanglah suara azan yang sangat indah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Bang Japar Meneguhkan Komitmen Jaga Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:51 WIB
X