"Ketiga, hal ini ditambah lagi dengan adanya kelompok menolak vaksin (vaccine hesitancy) yang terus menyebarkan informasi tidak tepat melalui berbagai media, termasuk berbagai WA grup yang kita terima sehari-hari," katanya.
Keempat, masih terus terjadi varian maupun subvarian baru. "Kendati yang kini ada memang tidaklah lebih berbahaya dari yang lalu, tetapi jelas lebih mudah menular, dan dunia belum sepenuhnya tahu pasti bagaimana perkembangan baru ini di masa datang," katanya.
Kelima, sudah terjadi kelelahan pandemi (pandemic fatigue) dan penurunan persepsi publik terhadap risiko yang masih mungkin dihadapi dan ini tampak dengan melonggarnya protokol kesehatan.
Keenam, masih terbatasnya pengetahuan dan ketersediaan pelayanan memadai untuk mengatasi dampak jangka panjang dari COVID-19, baik dalam bentuk long COVID, long-term systemic sequelae of post-COVID condition, dan juga peningkatan risiko terjadinya gangguan kardiovaskuler dan metabolik pasca-COVID-19.
Ketujuh, Emergency Committe COVID mengharapkan adanya upaya kuat untuk meningkatkan pengawasan, melaporkan data perawatan rumah sakit dan Intensive Care Unit (ICU) agar didapat data yang lengkap dan jelas tentang dampak masalah pada sistem kesehatan di negara dan dunia.
Kedelapan, disampaikan juga tentang keterbatasan ketersediaan petugas kesehatan dan adanya benturan prioritas dengan masalah kesehatan lain yang tentu perlu juga diatasi.
"Dalam hal ini maka Emergency Committe menekankan masih diperlukannya ketersediaan kapasitas kesehatan untuk menangani situasi COVID-19 dan juga terus meningkatkan ketahanan sistem kesehatan," ujarnya.
Di sisi lain, kata Tjandra, Emergency Committe juga beranggapan bahwa pandemi COVID-19 dalam situasi transisi dan memerlukan upaya maksimal untuk mengendalikan dan mencegah potensi negatif yang mungkin timbul.