”Pap smear bisa makin diluaskan, di titik mana potensi kemungkinan terjadinya serviks sesuai dengan data Dinkes. Kita bisa bangun sinergitas lebih kuat lagi untuk bisa memperbanyak pap smear,” ucap Khofifah.
”Saya rasa dua hal ini yang menjadi PR kita. Dua hal ini bisa kita masifkan. Insya Allah hasilnya juga signifikan sebagaimana yang selama ini sudah dilaksanakan YKI Jatim periode sebelumnya,” imbuhnya.
Khofifah juga mengajak pengurus YKI Cabang Koordinator Jatim mengintegrasikan program-program dengan para penyuluh. Yakni dengan memberikan panduan-panduan secara manual dengan format yang sederhana seperti video durasi singkat. Sehingga masyarakat juga akan lebih mudah mengakses dan memahami.
Gubernur Khofifah menambahkan, program-program paliatif juga bisa dilakukan secara komprehensif dan di banyak titik sebagai bentuk support kepada mereka. ”Yang bisa kita lakukan sesungguhnya cukup banyak, energi kita memungkinkan untuk bisa menyiapkan program-program paliatif,” tutur Khofifah.
Sementara itu, Ketua Umum YKI Pusat Aru Wisaksono Sudoyo mengatakan, Indonesia memiliki tugas menurunkan angka kanker sampai 30 persen pada 2030. Di Indonesia, 70 persen pasien kanker datang sudah pada stadium 3 dan 4. Oleh karena itu, promotif deteksi dini pada hakekatnya merupakan tugas utama bersama.
”Deteksi dini itu menjadi prioritas menjadi tugas dari kementerian kesehatan dan masyarakat. Selama ini, kita lebih banyak pada hal-hal yang kuratif,” kata Prof Aru. (RS)