sultra-raya

Foto Tua, Kisah Teraju Sejarah Perhutani di Madiun

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:36 WIB

Pemenangnya kemudian ketahuan dari koran lain. De Locomotief, 9 April 1898, memberitakan Tuan Floris, administrateur Houtaankap Ngorogoenoeng (Bodjonegoro) milik Nederlandsch-Indische Houtaankapmaatschappij. Kabar burung menyebut rumahnya dirampok dan istrinya menembak perampok. Ternyata bukan rampok. Yang datang air Bengawan Solo yang meluap ke pekarangan. Kata kerambah di mulut rakyat terdengar seperti krampah, lalu tersasar ke koran-koran sebagai kampak, gerombolan perampok. Berita kecil yang jenaka, tapi bagi penelusuran ini berharga: ia memastikan siapa penguasa persil itu.

Bataviaasch Nieuwsblad, 23 April 1903, mengutip Semarang Courant, mencatat persil Ngoro-Goenoeng II di afdeeling Bodjonegoro kembali digunduangkan kepada Ned. Ind. Houtaankap Mij. dengan sistem pachtschat. Maskapai itu bercokol lebih dari satu dasawarsa. Adresboek van Batavia 1898 melengkapi: NIHM punya tempat penumpukan kayu di Heemradenplein dan Petjakoelit, Batavia, dengan agen A.H. Veerkamp yang menginap di Hotel der Nederlanden. Kayu jati Bojonegoro mengalir sampai ke ibu kota. Dan De Locomotief, 24 November 1896, membuka lapisan keuangannya: maskapai houtaankap Wijsman en Co yang pailit diserap dengan modal preferen f 400.000, diatur lewat Dordtsche Bank di negeri Belanda. Foto panorama semahal itu, saya menduga, dibuat sebagai alat meyakinkan pemodal bahwa konsesinya nyata.

Perusahaan itu ternyata bukan pemain kecil. De Locomotief, 22 Maret 1898, mencatat pengangkatan H.L. Elenbaas sebagai kuasa pengusahaan Somberedjo. Artinya NIHM memegang lebih dari satu persil di karesidenan itu. Arnhemsche Courant, 9 Oktober 1912, memuat emisi saham anak perusahaannya, Houtaankap-Maatschappij Noord-Si-Maloer, seribu gulden selembar, ditawarkan di kantor bankir Gebr. Boissevain dan Dunlop & Co di Amsterdam. Si-Maloer itu Simeulue, pulau di lepas pantai barat Aceh. Dari jati Bojonegoro, perusahaan ini melebar sampai rimba Sumatra.

 

Baru pada 1919 nama itu muncul dalam struktur pemerintah. De Nieuwe Vorstenlanden, 10 Juli 1919, mencatat mutasi pegawai Boschwezen dari dan ke Houtvesterij Ngorogoenoeng. Persil swasta telah menjadi kesatuan kehutanan negara, sejajar dengan Dander dan Telawa. Garis inilah yang kelak sampai ke Perhutani.

Tapi, umur perusahaan itu tak sampai setengah abad. Begitu persil-persil Jawa kembali ke pangkuan Boschwezen, tulang punggung bisnisnya hilang. Algemeen Handelsblad, 8 September 1927, memuat pengumuman Komisi Likuidasi NIHM: obligasi perusahaan dibereskan lewat Centrale Trust Compagnie, Raadhuisstraat 52, Amsterdam. Perusahaan itu bubar, sedang berkemas. Foto panorama 1890 dengan demikian adalah potret masa jayanya, dibuat saat perusahaan sedang percaya diri memamerkan konsesinya.

Menemukan Foto Itu di Amsterdam

Katalog digital Universiteit Leiden dan koleksi KITLV saya jelajahi. Lalu Rijksstudio, katalog daring Rijksmuseum. Di sanalah foto itu menunggu.
Judulnya De Djatihoutkapperij Ngoro Goenoeg bij Bojonegoro op Java, penebangan kayu jati Ngoro Goenoeg dekat Bojonegoro di Jawa. Fotografer anoniem, sekitar 1890. Nomor objek NG-1980-10.

Panorama tujuh bagian yang direkatkan menjadi satu, kata museum. Di dinding Madiun saya menghitung delapan bingkai. Selisih satu itu masih jadi tanya, akan terjawab bila file dari Amsterdam tiba. Ukurannya membuat saya menarik napas: 223 milimeter kali 1.964 milimeter. Hampir dua meter. Dengan bingkai, 60 kali 231,7 sentimeter.

"De djati-hout kapperij Ngoro Goenoeg bij Bodjonegoro (Java), omstreeks 1890. De panorama-foto bestaat uit zeven delen die aan elkaar zijn geplakt." (Rijksmuseum, obj. NG-1980-10)

Awalan NG pada nomor objek berarti koleksi Nederlandse Geschiedenis, Sejarah Belanda. Angka 1980 menandakan tahun perolehan. Jadi klaim panel PeFI benar: Rijksmuseum memang membelinya, tahun 1980. Malam itu juga saya membuat akun Rijksmuseum dan mengajukan permintaan resmi file resolusi tinggi lewat formulir beeldaanvraag, sekaligus menanyakan provenance foto itu: dari siapa museum membelinya. Konfirmasi permintaan sudah diterima. Fotografernya masih anoniem. Dugaan mengarah ke studio-studio Surabaya zaman itu, Salzwedel, Charls & Van Es, atau Kurkdjian. Bahan koran lama malam itu kelak bisa jadi bekal mengusulkan atribusi.

Catatan Penutup

 

Sebuah foto di dinding Madiun ternyata bersambung ke Amsterdam. Di antara keduanya terbentang seratus tiga puluh enam tahun: lelang persil 1892, maskapai swasta yang jatuh bangun, houtvesterij pemerintah 1919, sampai Perhutani hari ini. Ruang Inspirasi PeFI memajang reproduksinya. Aslinya, hampir dua meter, tersimpan di brankas museum terbesar Belanda.

Foto-foto tua dari abad ke-19 itu, dapat dipastikan, sengaja dibuat untuk keperluan bisnis. Tapi, bukan itu, melainkan kisah lebih dari 130 tahun tersebut, seperti mewariskan tangkai sejarah. Bahkan inilah terajunya. Awal dari sebuah tradisi jati di Bojonegoro, Madiun dan daerah sekitarnya. Juga di Jawa. Djaticultuur.

 
 

Halaman:

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB