sultra-raya

Foto Tua, Kisah Teraju Sejarah Perhutani di Madiun

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:36 WIB

RAKYAT SULTRA.id-SAYA berangkat ke Madiun, Jawa Timur. Pertama benar-benar ke sini, tiba Kamis (30/7) siang. Kota itu panas rupanya dan tidak seramai yang diduga. Tapi, yang membuat saya lama berdiri bukan cuaca, melainkan sebuah dinding.

Di Perhutani Forestry Institute (PeFI) Madiun ada satu ruangan bernama Ruang Inspirasi. Di situ dipajang sebuah foto tua. Bukan satu lembar, melainkan beberapa lembar yang disatukan, memanjang seperti bentangan sawah. Warnanya sepia, warna waktu. Saya mendekat.

Yang Terlihat di Dinding

Ini delapan foto yang disatukan, menjadi sebuah panorama tua. Tentang nenek moyang dan tukang jajah kita. Tentang emak-emak yang dari rahimnya lahir kisah anak manusia dan kehidupan.

Foto itu merekam sebuah lapangan pengumpulan kayu jati. Luas. Balok-balok persegi berjajar di rumput. Lelaki bertelanjang dada memegang kampak pembentuk kayu pacakan. Kereta lori di atas rel, cikar bertenaga sapi, kuda-kuda beban berkeranjang. Belasan lelaki mendorong gelondongan raksasa ke atas roda kayu. Di tengah semua itu, para perempuan duduk dengan bakul dan pikulan. Ada anak-anak. Di antara pria-pria perkasa, perempuan Jawa dan balitanya, ada seorang perempuan necis berpayung. Dia bukan pekerja. Bukan istri pekerja. Mencolok sendiri. Bisa jadi ia istri pengusaha Belanda.

Saya perbesar bagian itu. Payung Eropa berjari-jari kawat, bukan payung kertas. Baju kurung lengan panjang dari bahan halus, selendang bermotif tersampir. Rambut disanggul rapi. Duduk menghadap kamera dengan pasti. Para pekerja di sekelilingnya sibuk atau canggung, ia tidak. Tatapannya tenang, hampir menantang. Tahu sedang dipotret, tak canggung. Sepertinya, sudah terbiasa dipotret. Posisinya persis di tengah komposisi. Foto pesanan bisnis tidak menempatkan orang sembarangan di titik pusat. Wajahnya masih muda, dua puluhan. Kalau foto ini 1890, ia lahir sekitar 1865. Kini wajah itu tersimpan hampir dua meter lebarnya di Amsterdam dan tak seorang pun tahu namanya.

Ada pengawas Belanda berpakaian putih-putih berdiri di atas balok, dan mantri berbeskap dengan jam rantai. Satu tatanan kolonial terekam utuh dalam satu bingkai.

Panel di sebelahnya menjelaskan. Foto terbitan tahun 1890, lokasi Ngoro Gunung, BKPH Bubulan, KPH Bojonegoro, Jawa Timur. Foto mozaik, sambungan dari beberapa foto, dokumentasi produksi kayu jati pada masa Buurman van Vredeen, pencipta sistem tanam Tumpang Sari. Panel itu juga menyebut satu kalimat yang menggoda: foto ini telah dibeli oleh Rijksmuseum Belanda. Interpretasi dan telaah dibuat Tim Knowledge Management, Perhutani Forestry Institute, Februari 2024.

 

Saya memotret potongan-potongan foto itu satu per satu. Tujuh dapat, satu bingkai paling kanan luput.

Dan, saya merapat ke hotel di Madiun. Mercure nan rancak. Rehat sembari memikirkan, betapa saya belum “kenal” Indonesia secara luas. Madiun saja baru kali ini bisa didatangi.

Padahal kota ini punya cerita. Madiun terbaring di lembah antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis, dialiri Kali Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Budayanya Mataraman, Jawa halus gaya Solo-Yogya, bukan arek. Kota ini dibesarkan dua rel. Rel kereta, sejak jalur Staatsspoorwegen Solo-Surabaya membelahnya tahun 1880-an, warisannya kini INKA, satu-satunya pabrik kereta api di Asia Tenggara. Dan rel kayu jati: sejak zaman Belanda, Madiun adalah ibu kota birokrasi jati untuk hutan-hutan lereng Wilis dan Saradan. Wajar PeFI berdiri di sini. Orang mengenalnya sebagai Kota Pendekar, tanah kelahiran perguruan silat Setia Hati, dan mengenang lidahnya lewat pecel dengan sambal kacangnya yang khas serta brem yang lumer. Dua rel itu bertemu persis di foto tua tadi: gerbong lori memuat balok jati.

Foto-foto nan bisu seperti kebanyakan foto, namun yang ini berkisah kepada saya. Bangkit pula semangat saya dibuatnya, maka saya carilah, malam itu juga. Kalau benar Rijksmuseum membelinya, foto aslinya pasti bisa ditemukan.

Jejak di Koran Lama

Pintu pertama adalah arsip koran-koran Hindia Belanda. Ejaan lama jadi kuncinya: Ngorogoenoeng, Boeboelan, Bodjonegoro. Satu per satu jejak muncul dari abad yang lampau.

Soerabaijasch Handelsblad, 8 April 1892, memuat iklan lelang. Pemerintah melelang eksploitasi het Djatiboschperceel Ngoro-Goenoeng, persil hutan jati Ngoro-Goenoeng di Residentie Rembang, untuk sepuluh tahun terhitung 1 Juli 1892. Lelang digelar Resident van Rembang, Senin 23 Mei 1892, pukul sepuluh pagi. Ditandatangani Direktur Binnenlandsch Bestuur, H. Kuneman. Syarat lengkapnya dimuat Javasche Courant No. 26, 1 April 1892.

Halaman:

Terkini