Dini menjelaskan setiap difabel memerlukan pendampingan khusus dengan gaya berbeda. Sebagai contoh, ada anak yang menggambar dengan cahaya redup, ada yang mengerjakan sambil mendengarkan musik. Dini dan tim akan menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan itu.
Demikian pula dengan hasil karya para penyandang disabilitas. Sembari terus didampingi dan diasah, Dama Kara tidak mengharuskan kualitas tertentu, dan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Sesuai komitmen kebermanfaatan yang dicetuskan Dini, semua program Dama Kara untuk difabel ini dilakukan secara cuma-cuma.
”Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkap Dini.
Memulai dari yang Kecil
Karya para penyandang disabilitas kini tak lagi dipandang sebelah mata. Desain-desain unik mereka yang berpadu dengan teknik-teknik mode yang khas Dama Kara tercetak abadi di produk-produk busana seperti kebaya, baju luaran, dan rok.
Berbagai ragam busana itu pun telah memiliki tempat tersendiri di pecinta mode, seperti dikenakan oleh sejumlah selebritas dan pemengaruh. Tak hanya di Tanah Air, kreasi busana yang dirintis Dini juga telah memiliki pasar di mancanegara hingga Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan.
Sejumlah karya adibusana Dama Kara juga mulai menapak ke panggung fesyen dunia. Wastra-wastra Nusantara yang menjadi ruang ekspresi penyandang disabilitas itu mewakili Indonesia di ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan beberapa waktu lalu.
Seiring dengan itu, potensi ekonomi Dama Kara terus meningkat. Namun, Dini yakin jika hanya mencari keuntungan finansial, suatu bisnis tak akan bertahan lama. Sebuah usaha harus dibangun dan dikembangkan dengan memberi dampak nyata bagi sekitar.
“Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita,” tandas Dini.
Dengan membuat disabilitas berdaya, Dama Kara bisa menjadi model bagi generasi muda dalam mengembangkan sebuah usaha yang berdampak. Menurut Dini, dampak ini tidak harus sesuatu yang besar dan bisa diawali dari kepekaan terhadap lingkungan.