sultra-raya

Berdaya Bersama: Misi Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas

Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:38 WIB

RAKYAT SULTRA.id-Penyandang disabilitas menyimpan kreativitas tanpa batas. Sehingga, eksplorasi potensi menjadi penting untuk dilakukan guna membantu menopang kesejahteraan mereka.

Nurdini Prihastiti, yang akrab dipanggil Dini, melalui Dama Kara, memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkarya di bidang fesyen. Mereka didampingi untuk menuangkan berbagai imajinasi ke dalam aneka desain, serta fesyen.

Hasilnya, karya tersebut bukan sekadar ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, namun juga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan karya-karya yang dihasilkan berhasil dipamerkan pada ajang peragaan busana internasional.

”Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Nurdini Prihastiti, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation.

Dari hasil kontemplasi Dini dan sang suami, mereka sepakat untuk memulai aksi filantropi di tengah aktivitas bisnis Dama Kara. Basisnya tetap bertumpu pada lini usaha di bidang sandang dan konveksi.

Dini terus mencari model filantropi yang memberi kebermanfatan lebih luas. Sejak berdiri di awal 2020, Dama Kara merangkul para perajin dan penjahit perempuan di sekitar tempat usaha di Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat.

Mengingat banyak produk merupakan buatan tangan alias handmade, Dama Kara memberi pelatihan kepada ibu-ibu untuk kemudian diminta membantu pengerjaan busana.

Pelibatan kaum perempuan dirasa tak cukup. Dini pun memperluas kebermanfaatan Dama Kara dengan mengajak kaum rentan yang selama ini terlupakan: penyandang disabilitas.

Ruang Ekspresi Difabel

Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024.

Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama. Dama Kara Foundation mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas.

Menurut Dini, para difabel yang bergabung di Dama Kara Foundation ini tidak harus mahir melukis atau mendesain.

”Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” ujar dia.

Dama Kara Foundation membuka ruang seluas-luasnya bagi difabel yang tertarik bergabung. Komitmen ini muncul setelah sejumlah keluarga penyandang disabilitas menyampaikan bahwa pendidikan formal bagi difabel hanya sampai setingkat SMA atau SMK.

“Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” kata dia.

Halaman:

Tags

Terkini