sultra-raya

Pemda Disarankan Optimalkan Potensi Akademisi Kampus untuk Membangun Daerah

Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:50 WIB

RAKYAT SULTRA.id-Hampir setiap daerah terdapat perguruan tinggi. Baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta. Kampus merupakan tempat para akademisi atau orang pintar.Selama ini tidak semua para praktisi dari kampus dilibatkan oleh pemerintah daerah (pemda) dalam membangun daerahnya. Padahal para dosen atau akademisi tidak sedikit yang menyelesaikan pendidikannya di luar negeri atau perguruan tinggi berkualias. 

Ketika mereka kembali ke Tanah Air, para dosen kerap tidak dilibatkan pemda dalam membuat kebijakan publik untuk kemajuan daerah itu sendiri.

 

Ketika pemda terkendala dalam membuat inovasi daerahnya, sejatinya bisa melibatkan pihak swasta dan akademisi di perguruan tinggi sebagai ahli atau praktisi. 

Menurut Wakil Rektor I Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Iwan Aflanie,  penghargaan terhadap dosen tidak hanya diwujudkan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan, tetapi juga melalui pemberian ruang bagi mereka untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan daerah atau negara.

 
 "Ketika (dosen) kembali, harus ada penghargaan untuk mereka dari pemerintah, perguruan tinggi i tu sendiri maupun pihak lainnya," ujar Iwan dalam Podcast Banyak Tanya dalam YouTube Jawa Pos TV, dikutip Senin (3/8). 

Dikatakannya, penghargaan itu tidak semata-mata dalam bentuk rupiah, tetapi juga memberikan kesempatan kepada dosen atau akademisi untuk berkiprah dan berkarya di tengah masyarakat.

Menurutnya, dosen yang memiliki kompetensi tinggi seharusnya menjadi bagian penting dalam proses penyusunan berbagai kebijakan pemerintah. Keterlibatan akademisi diperlukan sejak tahap awal, terutama saat pemerintah menyusun kajian atau studi kelayakan sebelum mengambil keputusan.

"Misalnya pemerintah akan membuat suatu kebijakan, tentu perlu feasibility study (studi kelayakan) yang baik. Akademisi harus ada di situ. Para dosen yang memiliki kapasitas sangat bagus wajar jika menyertai pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan," tuturnya.

 

Selain itu, Iwan juga mendorong dunia usaha untuk memanfaatkan keahlian para dosen sebagai tenaga ahli maupun mitra strategis. Kolaborasi swasta dan pemerintah daerah akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Yakni dalam memperkuat konsep link and match antara perguruan tinggi dengan dunia kerja.

"Industri juga harus memakai dosen-dosen ini sebagai tenaga ahli. Akhirnya seorang dosen tidak hanya berpikir hidup dari universitas dan mengajar saja, tetapi juga bisa memperoleh peluang lain melalui keahliannya," katanya.

Ia menilai, dosen yang aktif sebagai pakar di berbagai bidang bahkan dapat menciptakan peluang produktif, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi pembangunan daerah.

Selain itu, keberadaan perguruan tinggi yang hampir tersebar di seluruh provinsi dinilai menjadi modal besar bagi pemerintah daerah untuk menggandeng akademisi dalam merumuskan berbagai program pembangunan.

"Kepala daerah di setiap provinsi maupun kabupaten dan kota memiliki kepentingan terhadap dosen atau akademisi dalam membangun daerahnya. Potensi itu harus dimanfaatkan," tuturnya.

 

Di sisi lain, Iwan mengingatkan bahwa dosen yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri juga perlu memiliki komitmen kuat untuk kembali mengabdi di Indonesia.

"Yang sekolah ke luar negeri tentu rasa nasionalismenya harus tinggi. Semangat membangun bangsa harus kuat sejak awal sehingga ketika ada tawaran di luar negeri, mereka tetap kembali ke Indonesia," pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB