sultra-raya

IHSG Terkoreksi, Investor Waspadai Gejolak Timur Tengah

Senin, 13 Juli 2026 | 13:57 WIB

RAKYAT SULTRA.id-Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu yang tumbuh 0,83 persen ke level 5,924 belum menunjukan perbaikan signifikan.

Menurut Equity Analys PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan, penguatan IHSG masih dibayangi oleh aksi jual bersih yang dilakukan investor asing hingga mencapai angka Rp 1,7 triliun di pasar regular.

Pergerakan IHSG masih dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. dari panggung global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang kembali mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam aksi saling serang secara terbuka.

Dari penilaian David Kurniawan, konfrontasi militer ini langsung memicu kekhawatiran mendalam terkait potensi gangguan rantai pasok minyak mentah dunia, mengingat wilayah tersebut merupakan urat nadi jalur logistik energi global.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," ujar David dalam keterangan yang diterima pada Senin (13/7).

 
David menyebut arus dana global kini dialihkan secara masif ke aset-aset safe-haven yang dinilai lebih stabil dan tahan banting, seperti emas batangan dan mata uang dolar AS.
 

“Lonjakan permintaan ini diprediksi akan terus mendongkrak harga komoditas emas dan memperkuat nilai tukar dolar AS di pasar valuta asing dalam beberapa waktu ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi domestik atau dalam negeri kondisi fiskal Indonesia masih menunjukkan fundamental yang terukur. Pemerintah secara resmi melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada paruh pertama tahun 2026 mencatatkan angka sebesar Rp 196,5 triliun, atau setara dengan 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Secara regulasi, angka defisit ini berada dalam batas yang sangat aman karena jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 3 persen. Meski begitu, David mengingatkan bahwa laju belanja negara yang lebih cepat dibandingkan penerimaan tetap memberikan sinyal kewaspadaan bagi otoritas fiskal.

 

"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global," ucapnya.

Memasuki pekan 13-17 Juli 2026, perhatian pasar akan berpusat pada agenda ekonomi penting dari luar negeri. Rilis data Tingkat Inflasi (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni yang dijadwalkan pada hari Selasa menjadi indikator yang paling dinantikan, karena akan menjadi kompas utama pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga global.

Selain itu, pelaku pasar akan mencermati rangkaian pidato dari para pejabat bank sentral AS (The Fed) serta rilis data pertumbuhan PDB Singapura. Sementara itu dari dalam negeri, pergerakan nilai tukar Rupiah dan pasar saham domestik diproyeksikan masih akan dibayangi oleh dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB