Anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga melihat contoh secara langsung.
Saat menghadapi masalah, ayah yang baik tidak selalu marah atau meluapkan emosi secara berlebihan. Mereka menunjukkan bahwa kemarahan bisa disampaikan tanpa kekerasan dan bahwa konflik bisa diselesaikan melalui komunikasi.
Karena terbiasa melihat pola tersebut, anak biasanya tumbuh menjadi pribadi yang:
Tidak mudah meledak-ledak.
Lebih tenang saat menghadapi tekanan.
Mampu berpikir sebelum bereaksi.
Lebih sabar menghadapi orang lain.
Psikologi menyebut proses ini sebagai social learning, yaitu pembelajaran melalui pengamatan terhadap perilaku orang yang menjadi panutan.
3. Memiliki empati yang tinggi
Masih ada anggapan bahwa sosok ayah identik dengan ketegasan semata. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa ayah yang menunjukkan kasih sayang justru membantu anak mengembangkan empati.
Ketika ayah mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, menghargai perasaan mereka, dan menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, anak belajar memahami emosi sesamanya.
Empati kemudian menjadi kemampuan alami yang terbawa hingga dewasa.
Orang-orang seperti ini biasanya:
Menjadi pendengar yang baik.
Tidak mudah menghakimi.
Lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.
Mampu membangun hubungan yang lebih sehat.
Empati juga berhubungan dengan kecerdasan emosional yang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan hidup.
4. Bertanggung jawab terhadap pilihan hidup
Ayah yang baik mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Alih-alih selalu menyelamatkan anak dari setiap kesalahan, mereka membantu anak memahami akibat dari keputusan yang diambil.