RAKYAT SULTRA.id - mati Freddy Budiman di Nusakambangan 10 tahun lalu memang menutup lembar cerita gembong narkoba yang berkelindan dengan pelanggaran hukum oleh sejumlah aparat. Namun, itu bukan akhir perburuan pemain besar dalam jejaring peredaran gelap narkoba. Nama Fredy Pratama kini berada dalam berkas paling atas sebagai buron kakap.
Sejak masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 2014 silam,polisi belum berhasil menangkap Fredy Pratama. Pelariannya ke luar negeri menjadi pengganjal. Konon dia berada dalam perlindungan kartel. Aparat penegak hukum yang memiliki tanggung jawab pemberantasan narkoba sampai akar seperti Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa kali menyebut Fredy berada di Thailand.
Namun kepastian atas informasi perlu dibarengi langkah konkret: menangkap dan memulangkan pria bernama lain Miming tersebut. Masalahnya, meski sudah menjadi buron internasional dan diburu oleh beberapa negara tersebut terus beroperasi. Dari luar negeri, dia memasok barang haram ke berbagai negara, termasuk diantaranya Indonesia.
"Frans Antoni bukanlah pelaku biasa, melainkan pengendali keuangan, pengendali lapangan, dan pengendali operasional dari sindikat narkotika pimpinan Fredy Pratama,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko kepada awak media di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan (Jaksel) baru-baru ini.
Bersama Fredy, Frans Antoni mengendalikan peredaran narkoba di beberapa kota besar di Indonesia sejak 2009 silam. Mulai kota-kota besar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, sampai Sulawesi. Meski Fredy sudah kabur ke luar negeri, jejaringnya masih eksis. Salah satunya karena keberadaan Frans Antoni. Dia disebut sudah berkawan lama dengan Fredy.
Melibatkan Adik dan Istri, Frans Antoni Jadi Agen Ganda Fredy Prtama
Dalam jaringan yang dibangun oleh salah seorang penguasa Golden Triangle atau Segitiga Emas jalur distribusi narkoba di Asia Tenggara tersebut, Frans memegang peranan sebagai agen ganda. Keseluruhannya vital. Seperti disampaikan oleh Brigjen Eko, Frans bergerak dalam organisasi, mengurus uang, dan mengendalikan peredaran di lapangan.
Tidak heran catatannya sangat panjang. Sebanyak 168 kali bolak-balik Indonesia-Thailand dalam kurun waktu 2017-2023. Selama 6 tahun dia mengangkut sendiri uang milik Fredy dari hasil bisnis haram di Indonesia ke Thailand. Dalam sekali angkut, minimal dia membawa Rp 1 miliar. Bila dirata-rata, maka minimal Rp 168 miliar dibawa oleh Frans untuk diserahkan kepada Fredy.
Untuk memuluskan jalannya, Frans tidak bekerja sendiri. Dia mengajak adiknya, Steven Antoni. Nama Steven digunakan untuk membuat rekening penampungan uang. Uang-uang itu diperoleh dari seorang bernama Kosnadi Irwan alias Uncle. Total lebih dari SGD 1,2 juta diterima Frans dari Uncle. Ya, setiap kali mengantarkan uang untuk Fredy, pecahan rupiah ditukar lebih dulu menjadi Dollar Singapura.
”Frans Antoni merupakan salah satu figur penting dalam struktur jaringan Fredy Pratama. Penangkapannya menjadi langkah strategis untuk membongkar secara menyeluruh struktur organisasi dan aliran dana sindikat narkotika internasional tersebut,” ucap Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir.
Saat digelandang ke Gedung Bareskrim Polri Jumat pekan lalu (19/6), Frans tidak sendirian. Seorang perempuan ikut dibawa. Belakangan diketahui bawah namanya adalah Perta Niasi. Dia yang mendampingi Frans selama bersembunyi dari kejaran polisi. Sampai Jumat (26/6) dia masih diperiksa oleh penyidik Bareskrim Polri dengan status sebagai saksi.
Dengan status itu, Perta Niasi memang belum bisa disebut berada dalam jaringan Fredy Pratama. Namun, kedekatannya dengan Frans jelas tidak bisa diabaikan. Dia disebut mengikuti suaminya saat berpindah-pindah tempat tinggal di Thailand. Setiap lokasi yang ditempati oleh Frans, ada campur tangan Fredy lewat orang-orangnya.
”Istrinya selama ini mendampingi pelariannya (Frans Antoni),” sambung Brigjen Eko.
Namun, pelarian mereka berdua berakhir di Malaysia pada Kamis (18/6). Oleh otoritas Malaysia, Frans ketahuan hendak masuk melalui jalur ilegal. Dia kemudian langsung dibawa ke Indonesia selang sehari pasca penangkapan. Frans diangkut menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-821 dan tiba di Gedung Bareskrim Polri sekitar pukul 15.30 WIB.
Frans Antoni Bukan Yang Pertama, Polri Lucuti Struktur Operasi Jaringan Fredy Pratama
Sebagai pucuk pimpinan, Fredy Pratama boleh saja bersembunyi dan mengendalikan bisnis haramnya dari luar negeri. Namun, Polri tidak tinggal diam. Sembari terus berikhtiar menemukan dan menangkap buron kakap tersebut, struktur operasi Fredy Pratama di dalam negeri dilucuti. Pelan, tapi pasti. Polri menangkap dan menghukum setiap orang yang terlibat dalam peredaran gelap narkoba jaringan Fredy Pratama