Lebih lanjut Basiran mengatakan, jika hal tersebut terlaksana maka akan memberikan nilai tambah dalam meningkatkan devisa negara dalam hal mengurangi impor aspal minyak untuk kebutuhan dalam negeri dan juga meningkatkan nilai ekspor.
Selain itu akan memberikan peningkatan pendapatan dalam negeri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bersumber dari pajak dan deviden yang diperoleh dari industri hilirisasi aspal tersebut.
"Sejauh ini pemasaran aspal Buton belum maksimal karena hanya digunakan 0,9 persen dari kebutuhan aspal dalam negeri," tutur Basiran.
Basiran menambahkan, KTT ASEAN merupakan momen yang tepat untuk memperkenalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia termasuk di Kabupaten Buton yang memiliki ratusan juta ton aspal.
Dia menyampaikan, jika aspal Buton menjadi isu pembahasan di KTT ASEAN, maka investor yang ada di negara-negara ASEAN tidak menutup kemungkinan mau berinvestasi terhadap hilirisasi dan industri aspal Buton.
"Sehingga aspal Buton dapat dimanfaatkan bukan hanya kebutuhan pengaspalan jalan di Indonesia tetapi menjadi aspal yang bisa digunakan oleh semua negara-negara ASEAN," pungkas Basiran. ANT