sultra-raya

Jual Nasi Kuning Depan Kampus Baru UHO Kini Bisa Bangun Rumah Tiga Lantai

Jumat, 30 September 2016 | 20:26 WIB
Suyati

-
Suyati

FEATURE, RSONLINE - “Alon – Alon tapi Kelakon” ungkapan itu sangat pas untuk Suyati (53), wanita kelahiran Nganjuk Jawa timur, yang sukses di tanah rantau Kendari, hanya karena keuletannya berjualan nasi kuning di depan kampus baru UHO.

Laporan : Boy Herman, Kendari.

Bagaimana tidak, pelan tapi pasti ibu dua anak ini, kini mampu merubah warung yang dulunya hanya berjualan dipinggir jalan beratapkan tarpal, kini menjadi rumah tiga lantai. Namun, rumah yang baru dibangunnya itu belum seberapa, jika dibanding besarnya keberanianya berjualan di jalan H.E.A Mokodompit, depan kampus yang dipenuhi banyak aksi premanisme.

Warung nasi Suyati merupakan satu-satunya warung nasi begadang di depan kampus UHO. Selain menjadi kebanggaan dirinya, namun terkadang juga menjadi teror tersendiri, ungkap wanita berlogat kental Surabaya ini.

Bisa dikata orangtua yang berhasil menjadikan anak pertamanya menjadi seorang polisi ini, kerap menjadi saksi maupun korban dari berbagai aksi kriminalitas preman kampus. Tetapi hal itu tetap tidak mengurungkan niatnya untuk tetap berjualan, dirinya pantang menyerah.

Namanya memang kurang familiar dikalangan mahasiswa. Namun nasi kuning buatanya sangat populer di lidah mahasiswa UHO. Jualannya cuma nasi kuning tanpa ada hal lain, hanya sesekali terlihat gantungan krupuk yang merupakan dagangan orang yang dititip.

Seolah tak mengenal rasa ngantuk, wanita yang baru saja merampungkan pembangunan 13 kamar asramanya ini, nampak tetap semangat melayani pembeli, walau sudah jam 2 malam. Request dari pembeli yang banyakpun, bahkan sudah dipesan sejak siang bolong.

Tumpukan material bangunan sebagai tiang mal rumahnya terlihat menambah sesak isi warungnya yang sementara dibangun, tapi jangan tanya, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk menghentikan aktivitasnya be jualan nasi kuning.

Kepada penulis, dirinya bercerita, dulunya dirinya berjualan bakso di Surabaya, "Hanya karena perekonomian di Jawa semakin susahm jadi aku ngerantau ke Sulawesi," tuturnya.

Sulawesi Tenggara menjadi pilihannya untuk merantau, saat tiba di tanah Sultra, dirinya tinggal dirumah teman di Tanea kecamatan Konda, dan belum kerja. Oleh temannya, dirinya disampaikan di depan kampus baru ada tempat untuk menjual.

"Aku coba datang jualan disini. Jadinya aku ngekos tiga bulan depan kampus. Rencananya kalau tidak ada hasil aku mau balik ke Surabaya aja," kenangnya.

Sementara modal awalnya untuk berjualan berasal dari uang hasil tabungan saat dirinya berjualan di Surabaya dulu, sudah termasuk untuk transportasi dan biaya hidup di Sulawesi.

"Pertama menjual sehari cuma bisa habis tiga kilo beras tiap harinya, masih setengah mati. Saya hampir putus asa, mau berhenti. Untungnya saya suka dihibur sama tiga orang mahasiswa yang merupakan tetangga kos saya, mereka itu baik-baik semua, semua pada sarjana," ingatnya.

Tapi dirinya putuskan untuk tetap terus berjualan, "Dan Alhamdullilah sekarang bisa laku sampai 80 kilo perhari, lanjut dia. Jadinya sekarang udah pakai karyawan dua orang. Harga nasi sekarang ini untuk nasi kuning telur Rp 7 ribu, dan nasi ikan Rp 8 ribu. Lima tahun lalu harganya tetap sama sama Rp 5 ribu. Sekarang baru naik, aku tidak mau pasang tarif tinggi- tinggi, supaya bisa menolong mahasiswa," ungkapnya sambil membersihkan piring makan pembeli.

Halaman:

Tags

Terkini