Ditanya soal, pengalamanya menghadapi premanisme depan kampus, dirinya hanya tersenyum. "Ya takut itu harus, cuma pada sang pencipta, bukan sama orang yang lapar, mabuk-mabuk lalu datang dengan gayanya, lalu ngaku-ngaku penguasa kampus, bisa jadi apa kampus kalau dikuasai sama mereka," jawabnya.
Menurutnya, semua itu hanya bentuk dari kenakalan remaja semata.
Hal seperti itu juga dialaminya saat masih di Surabaya. Masalah diancam pakai pistol, parang, dan benda tajam lain tetap dihadapinya dengan kepala dingin. "Alhamdulilah sekarang sudah tidak ada lagi," tambahnya.
Untuk membuat asrama dan rumah tiga lantai, selain dari tabungan hasil berjualan nasi koning, dirinya juga mendapat bantuan dana dari BRI, namun dirinya malu menyebutkan jumlahnya, "yang pokok bisa untuk membangun," katanya.
Harapannya dalam waktu dekat ini, ia bisa daftar haji. Supaya bisa ditinggikan derajatnya dihadapan sang Pencipta. **