Jumat, 28 Agustus 2026

Indonesia Butuh Lebih Banyak Kapal Fregat Serbaguna untuk Hadapi Ancaman Multidimensi

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Jumat, 7 Agustus 2026 | 11:31 WIB

RAKYAT SULTRA.id-Ancaman multidimensi terus berkembang di kawasan Indo-Pasifik. Untuk menghadapi kondisi tersebut, TNI AL butuh lebih banyak kapal fregat serbaguna seperti Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) Kelas Brawijaya. Kapal fregat serbaguna yang didatangkan dari Italia tersebut menegaskan perlunya transformasi armada Angkatan Laut Indonesia.

Laksamana Muda TNI (Purn) Agung Pramono sebagai purnawirawan TNI AL yang pernah menjadi asisten perencanaan umum panglima TNI menyampaikan bahwa satu platform kapal perang dengan berbagai kemampuan tempur lebih efisien dalam melaksanakan tugas menjaga wilayah laut Indonesia yang sangat luas. Karena itu, pengadaan kapal PPA menjadi momentum.

Menurut Agung, luas wilayah laut Indonesia menuntut pendekatan berbeda dibandingkan negara lain. Sehingga strategi pertahanan harus diterjemahkan dalam strategi militer dan selanjutnya menjadi dasar penentuan kebutuhan alutsista. Dalam konteks Indonesia, dia menyebutkan bahwa pengendalian wilayah laut, khususnya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), menjadi prioritas utama.

 

”Menurut saya ZEE itu harus kita kendalikan dan kita kuasai. Jangan sampai ada orang masuk tidak kita ketahui,” ucap Agung dikutip pada Kamis (6/8) dari siniar Ngobrolin Pertahanan Indonesia yang ditayangkan pada kanal YouTube Marapi Consulting & Advisory.

Dengan berkembangnya ancaman multidimensi yang bisa datang dari kapal permukaan, kapal selam, pesawat tempur, rudal jarak jauh, serta drone, ancaman terhadap ZEE saat ini lebih mungkin datang melalui serangan udara ketimbangan serangan laut konvensional. Karena itu, keberadaan kapal perang yang memiliki kemampuan pertahanan udara menjadi kebutuhan strategis.

 
 

”TNI AU maupun TNI AL, dua-duanya harus dilengkapi kemampuan antiudara yang efektif,” ucap dia.

Salah satu yang paling cocok adalah kapal fregat serbaguna berukuran sekitar 3.500–6.000 ton seperti KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kapal perang itu dinilai efektif mengimplementasikan strategi anti-access untuk mencegah pihak lain memasuki wilayah yurisdiksi Indonesia tanpa dapat dideteksi maupun direspons.

Dalam tayangan yang sama, pengamat pertahanan dari Marapi, Alman Helvas Ali menjelaskan bahwa PPA Kelas Brawijaya merupakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) strategis yang bisa diandalkan untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia dan menjawab perubahan karakter ancaman di kawasan.

Alman tidak menampik, ada keterbatasan kemampuan pertahanan udara dari kapal-kapal perang Indonesia. Persoalan itu muncul sebagai ekses orientasi pembangunan armada TNI AL di masa lalu. Menurut dia, dulu fokus pembangunan Angkatan Laut lebih kepada penegakan hukum di laut. Peningkatan kemampuan pertahanan udara belum menjadi concern.

”Bertahun-tahun fokus Angkatan Laut kita lebih banyak ke operasi di perairan teritorial sehingga kemampuan pertahanan udara jarak menengah belum menjadi prioritas,” ujaranya.

Perubahan lingkungan strategis menuntut TNI AL itu mengubah orientasi pembangunan kekuatan laut. Menurut Alman, salah satu wujud nyata dari keputusan itu adalah hadirnya kapal perang PPA. Dia menilai, pengadaan kapal tersebut menjadi awal transformasi menuju armada tempur yang mampu memberikan perlindungan udara untuk seluruh gugus tugas laut.

”Sekarang kita sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal bagaimana Kementerian Pertahanan segera melengkapi PPA dengan senjata- senjata yang dibutuhkan termasuk rudal Aster,” ucap Alman.

 

Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa pengembangan armada Indonesia kedepan sebaiknya diarahkan pada kapal fregatserbaguna. Kapal perang yang mampu melaksanakan berbagai fungsi sekaligus. Mulai fungsi pertahanan udara, peperangan antikapal permukaan, hingga peperangan antikapal selam. Itu opsi yang paling realistis di tengah keterbatasan anggaran pertahanan Indonesia.

”Akan lebih bijaksana kalau kita membeli fregat tipe general purpose karena memiliki kemampuan pertahanan udara, anti permukaan, dan anti kapal selam sekaligus,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Api yang Belum Dijawab RUU Kehutanan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Terpopuler

X