Menurut Anto, pembangunan infrastruktur menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih kuat.
Anto kemudian menyoroti perkembangan sepak bola di sejumlah negara Asia, termasuk Thailand dan Malaysia.
Menurutnya, banyak klub profesional di kedua negara tersebut sudah memiliki stadion sendiri sehingga perkembangan itu menjadi salah satu inspirasi bagi Kendal Tornado FC.
"Kami ingin sepak bola Indonesia terus berkembang dan tidak kalah dengan negara-negara lain di Asia. Di Thailand maupun Malaysia, banyak klub yang sudah memiliki stadion sendiri. Mudah-mudahan langkah ini juga dapat memotivasi klub-klub lain untuk membangun stadion," katanya.
Anto tetap mengapresiasi pemerintah yang selama ini menyediakan berbagai fasilitas stadion untuk menunjang aktivitas sepak bola.
Namun, pertumbuhan penduduk Indonesia dan besarnya minat masyarakat terhadap sepak bola dinilai perlu diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur yang lebih luas.
Ia melihat industri sepak bola memiliki prospek menjanjikan jika dikelola secara profesional. Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola bahkan dinilai sudah menjadi perhatian dunia, termasuk negara-negara di Eropa.
Di sisi lain, Anto menyadari Kendal Tornado FC masih berada dalam tahap awal perjalanan.
Klub tersebut baru sekitar satu tahun berkiprah di kompetisi Liga 2 sehingga membutuhkan proses panjang untuk berkembang dan membangun prestasi.
Karena itu, Kendal Tornado FC memilih memperkuat fondasi klub melalui pembangunan infrastruktur.
Setelah Charlie Training Center, rencana stadion berkapasitas sekitar 10 ribu penonton menjadi bagian dari visi jangka panjang klub untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih profesional.
"Kami memahami bahwa membangun prestasi tidak bisa instan. Karena itu, kami ingin meletakkan dasar-dasar yang kuat, mulai dari pembangunan training center hingga stadion. Infrastruktur merupakan elemen penting yang nantinya akan mendukung peningkatan prestasi sepak bola," pungkasnya.