RAKYAT SULTRA.id-Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari meninjau kesiapan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 2 Surabaya, yang berlokasi di Jalan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak.
Sekolah Rakyat seluas 6,6 hektare itu ditargetkan mulai menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) pada awal Agustus 2026. Saat ini, pembangunan memasuki tahap akhir dan ditargetkan rampung pada akhir Juli.
"Dari sawah, sekarang punya gedung yang begini bagus dan megah. Saya yakin Bapak Presiden juga sangat bangga dan terharu jika melihat langsung perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat ini," tutur Qodari pada Selasa sore (28/7).
SR Terintegrasi 2 Surabaya dirancang tidak hanya menyediakan gedung kelas yang representatif, tetapi juga fasilitas penunjang, seperti gedung sekolah terpadu untuk SD, SMP, SMA dan asrama siswa serta guru.
“Di sini ada lapangan mini soccer, lapangan basket, dan lapangan voli, ruang serbaguna, masjid, guest house, kantin, serta dapur umum. Ada juga peralatan laboratorium yang saat ini masih dalam tahap pendataan ulang," imbuhnya.
Qodari menjelaskan program Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan 2. Program ini menjadi wujud komitmen Presiden Prabowo untuk memperluas akses pendidikan.
"Mudah-mudahan tempat ini menjadi pintu dan menjadi jalan bagi perubahan nasib anak-anak kita yang kurang beruntung dan bagi keluarga mereka," kata Mantan Kepala Staf Kepresidenan RI periode 2025 - 2026 tersebut.
Sebagai informasi, Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Sekolah Rakyat terbanyak, yakni 26 titik. Dari jumlah itu, 18 Sekolah Rakyat sudah menggunakan gedung permanen, termasuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Surabaya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti menggungkapkan, sebanyak 270 siswa baru SR Terintegrasi 2 Surabaya, dijadwalkan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 30 Juli 2026.
Ratusan siswa tersebut berasal dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar, seluruh peserta diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari tahapan awal sekolah.
“Tanggal 30 mereka mulai masuk untuk administrasi, lalu tanggal 31 mulai menginap dan menjalani tes kesehatan khusus siswa SMA. Selanjutnya tanggal 1 Agustus, disusul tes kesehatan bagi SD dan SMP," kata Antiek.
Selain menyambut 270 siswa baru, fasilitas Sekolah Rakyat juga akan menampung sekitar 100 siswa rintisan yang sebelumnya menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Siswa rintisan yang kini telah naik ke kelas 2 (jenjang SMA) tersebut akan dipindahkan secara bertahap hingga seluruhnya terpusat di satu lokasi. Jadi total ada 270 siswa baru dan 100 siswa dari sekolah rintisan,” ujarnya.
Antiek berharap keberadaan fasilitas Sekolah Rakyat yang megah ini dapat menjadi solusi nyata dalam menekan angka putus sekolah di Surabaya, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Kami tentunya sangat mendukung dan berharap Sekolah Rakyat ini dapat mengurangi anak putus sekolah dan membantu mengangkat masa depan anak-anak Surabaya dari keluarga tidak mampu," pungkas Antiek.