Jumat, 28 Agustus 2026

Di era global yang semakin terhubung, anak-anak tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki keterampilan untuk memah

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Senin, 20 Juli 2026 | 13:53 WIB

RAKYAT SULTRA.id - Di era global yang semakin terhubung, anak-anak tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki keterampilan untuk memahami perbedaan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta melihat dunia dari berbagai perspektif.

Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi masa depan untuk hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang terus berubah. Menjawab kebutuhan tersebut, Gosh! Kids menghadirkan konsep experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman yang memadukan perjalanan, budaya, dan kreativitas.

Melalui pendekatan ini, anak-anak diajak membangun wawasan global sejak usia dini sekaligus memperkuat hubungan dengan keluarga melalui pengalaman belajar yang dilakukan bersama. Salah satu program unggulannya adalah International Preschool Exchange, yang memberikan kesempatan bagi anak usia 3 hingga 6 tahun untuk mengikuti pengalaman belajar selama satu hingga tiga minggu di taman kanak-kanak luar negeri, seperti di Singapura dan Taiwan.

Dalam program ini, anak-anak belajar bersama siswa lokal, berinteraksi dengan bahasa dan budaya setempat, serta mengembangkan kemandirian dan rasa percaya diri melalui pengalaman hidup di lingkungan yang berbeda.

Co-Founder Gosh! Kids Mathieu Beth Tan menuturkan, anak-anak belajar paling baik ketika mereka berada di lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka, bermain dan berinteraksi dengan teman-teman dari budaya yang berbeda.

”Pengalaman seperti ini mungkin terasa menantang pada awalnya, tetapi justru di sanalah mereka belajar membangun kemampuan beradaptasi dan ketangguhan, dua keterampilan yang sulit diperoleh hanya melalui ruang kelas atau buku pelajaran,” ujar Mathieu Beth Tan.

Dia menjelaskan, selama anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah, orang tua juga memiliki kesempatan untuk menikmati destinasi tersebut sebagai wisatawan. Seluruh anggota keluarga dapat memperoleh pengalaman yang bermakna sesuai dengan peran dan kebutuhan masing-masing.

Berbeda dengan liburan keluarga, lanjut Mathieu Beth Tan, setiap kegiatan dirancang agar orang tua dan anak dapat berpartisipasi secara aktif dalam setiap proses pembelajaran. Program ini dibangun di atas empat pilar utama, yaitu eksplorasi alam, kreativitas, pertukaran budaya, dan penguatan hubungan keluarga.

”Melalui berbagai pengalaman tersebut, anak-anak diajak keluar dari rutinitas digital mereka untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, berani menghadapi tantangan baru, serta menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap dunia di sekelilingnya,” papar Mathieu Beth Tan.

Dia menambahkan, pihaknya juga menghadirkan Creative Photography & Videography Programme. Program ini bertujuan mendorong anak menjadi kreator, bukan sekadar konsumen informasi.

”Melalui fotografi dan videografi, anak-anak diajak mengamati detail-detail di sekitar yang sering kali luput dari perhatian, berpikir lebih kreatif, serta belajar menyampaikan cerita melalui karya visual yang mereka hasilkan sendiri,” ungkap Mathieu Beth Tan.

Menurut dia, pengalaman lintas budaya membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki cara hidup, cara berpikir, dan sudut pandang yang berbeda.

”Kami terus membangun ekosistem pembelajaran alternatif yang menghubungkan anak dengan dunia nyata sekaligus memperkuat hubungan mereka dengan keluarga dan komunitas global,” terang Mathieu Beth Tan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Terpopuler

X