Jumat, 28 Agustus 2026

Pemerintah Pastikan Cadangan Beras dan Pangan Strategis Lain Siap Antisipasi Kemarau

Photo Author
Efendy, Rakyat Sultra
- Kamis, 9 Juli 2026 | 13:14 WIB

Hal ini karena adanya surplus produksi terhadap kebutuhan konsumsi yang cukup tinggi selama setahun.

 

Melansir dari Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, cabai besar memiliki prakiraan produksi setahun ini di angka 1,51 juta ton dengan kebutuhan konsumsi setahun 929,27 ribu ton.

Untuk cabai rawit produksinya bisa mencapai 1,5 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 913,61 ribu ton.

Untuk bawang merah produksinya setahun ini dapat mencapai 1,32 juta ton dengan kebutuhan konsumsi setahun 1,25 juta ton. 

Sedangkan telur ayam ras produksi setahun di 6,98 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 6,47 juta ton. Daging ayam ras produksinya 4,89 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 4,02 juta ton.

Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan alasan kenapa mesti beras terlebih dahulu yang mencapai swasembada.

 

Swasembada beras dapat menjadi tolak ukur karena menjadi porsi terbesar dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia.

"Swasembada itu artinya manakala suatu negara impor maksimal 10 persen dari kebutuhan. Negara kita ini tidak impor beras medium berarti telah swasembada sempurna," kata Kepala Bapanas Amran 

"Kenapa beras? Karena lebih dari 50 persen itu persentase beras kalau setiap kita makan. Tambah telur, juga sudah swasembada. Tambah daging ayam, sudah swasembada. Jagung pakan, bawang merah, dan cabai juga. Minyak goreng kita suplai dunia. Presiden kita hebat. Capaian hari ini, pangan kita aman," jelas Amran.

Besarnya konsumsi beras masyarakat tersebut selaras dari skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia tahun 2025 yang secara berkala dihitung Bapanas.

Skor PPH pada tahun 2025 menunjukkan konsumsi padi-padian masyarakat Indonesia berada lebih dari 50 persen. 

 

Selanjutnya, konsumsi pangan hewani mencapai 12,7 persen dan 12,4 persen adalah minyak dan lemak.

Sayur dan buah 6,8 persen, gula 4 persen, dan selebihnya kacang-kacangan, umbi-umbian, buah/biji berminyak, dan komoditas lainnya.

"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023, alhamdulillah kita lolos. Kalau bulan Agustus sampai September, memang musim kering. Juni itu awal musim kering. (Lalu) Juli dan Agustus. Insya Allah pangan kita aman, terutama beras," pungkasnya.

 

Suka artikelnya? Yuk traktir kopi
Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Efendy

Tags

Terkini

Terpopuler

X