RAKYAT SULTRA.id-Guru agama Kristen di berbagai daerah masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari minimnya tenaga pengajar, kuota PPG yang terbatas, hingga pembayaran tunjangan sertifikasi yang belum tuntas.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pendidik Siswa Kristen Indonesia (PERDISKI), Yusak, dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) II Perdiksi di Gereja Mawar Sharon, Kota Surabaya pada Kamis (2/7).
"Di Munas perdiksi 2026 ini, ada beberapa hal yang perlu kita tegaskan kepada pemerintah untuk memberikan ruang bagi kami (para guru agama kristen ), supaya diberikan fasilitas layak," tutur Yusak kepada JawaPos.com.
salah satu persoalan yang paling mendesak adalah kekurangan guru agama kristen, yang hampir terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai perlu segera mendapat perhatian pemerintah.
"Bahkan dari penuturan rekan sejawat, hampir setiap kota/ kabupaten di Indonesia menyebut kurang guru agama Kristen. Kami mendorong pemerintah untuk peduli dengan nasib kami, guru agama Kristen," sambungnya.
"Yang ketiga, kami menyoroti pembayaran tunjangan seterfikasi guru yang belum dibayarkan. Dara internal mengatakan sekitar 300 - 400 guru agama Kristen di Indonesia belum menerima haknya," ucap Yusak.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi penyelenggaraan Munas II PERDISKI di Kota Surabaya sebagai forum nasional bagi guru agama Kristen.
"Ibu gubernur (Khofifah Indar Parawansa) menyampaikan bagaimana Munas PERDISKI ini menjadi wadah untuk memperkuat peran guru agama Kristen yang ada di seluruh sekolah Indonesia," ujar Aries.
Ia tak menampik bahwa jumlah guru agama Kristen di Jawa Timur cukup terbatas. Di acara Munas, Aries berharap PERDISKI dapat memperkuat jejaring organisasi di tengah keterbatasan yang ada.
"Hasil Munas ini nanti akan disampaikan ke pemerintah, sehingga bisa dicarikan solusi terbaik dalam menyusun kebijakan. Dengan begitu. Kebutuhan guru agama dapat terpenuhi sesuai kebutuhan sekolah," pungkasnya.