RAKYAT SULTRA.id-Kelembapan udara yang tinggi di Indonesia menjadi tantangan dalam menjaga koleksi museum dan berbagai benda bersejarah agar tetap terawat. Tanpa pengendalian yang tepat, kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan jamur, mempercepat pelapukan material, hingga menyebabkan korosi pada koleksi berbahan logam.
"Kelembapa udara sering kali menjadi faktor yang kurang disadari, padahal dampaknya sangat besar terhadap kerusakan material," ujar Asisten Manager Brand Marketing Notale, Andri Sutanto. Menurut dia, Notale menghadirkan dehumidifier industrial untuk membantu menjaga kelembapan tetap berada pada level ideal sehingga koleksi museum maupun aset industri dapat terlindungi.
Indonesia sebagai negara tropis memiliki rata-rata kelembapan udara tahunan berkisar 70–90 persen Relative Humidity (RH). Angka tersebut jauh di atas kisaran ideal penyimpanan koleksi museum yang berada pada level 45–55 persen RH.
Paparan kelembapan yang tinggi secara terus-menerus dapat mempercepat kerusakan manuskrip kuno, arsip sejarah, lukisan, hingga artefak budaya. Material organik menjadi lebih mudah lapuk, jamur tumbuh lebih cepat, sementara koleksi berbahan logam rentan mengalami korosi.
Permasalahan serupa juga menjadi perhatian di berbagai negara. Pada 2025, konservator di National Museum of Denmark melaporkan temuan mikroorganisme jamur yang menyerang koleksi di sedikitnya 12 museum. Memasuki 2026, National Museum of History turut melaporkan kerusakan koleksi herbarium akibat tingginya kelembapan udara.
Melihat kondisi tersebut, Notale menghadirkan lini Dehumidifier Industrial yang dirancang untuk menjaga stabilitas kelembapan pada ruang penyimpanan berskala besar, mulai dari museum, galeri, ruang arsip, hingga berbagai fasilitas industri.
Perangkat ini bekerja dengan menarik udara lembap menggunakan kipas internal, kemudian mengalirkannya menuju kumparan pendingin (evaporator).
Ketika mencapai titik embun (dew point), uap air berubah menjadi kondensasi dan dialirkan ke saluran pembuangan. Udara yang telah dikurangi kadar airnya kemudian disirkulasikan kembali ke dalam ruangan sehingga tingkat Relative Humidity tetap terjaga.
Notale menghadirkan dua pilihan produk, yakni Dehumidifier Drymax dengan kapasitas penyerapan hingga 110 liter air per hari untuk kebutuhan heavy duty di ruangan berukuran besar, serta Dehumidifier Xentra yang mampu menjangkau area hingga 180 meter persegi dengan kapasitas penyerapan mencapai 60 liter per hari.
Kedua perangkat tersebut dilengkapi tiga mode operasi, yakni Dry Mode untuk penyerapan kelembapan maksimal, Comfort Mode yang menjaga kelembapan pada kisaran 45–60 persen RH guna membantu menghambat pertumbuhan jamur, serta Manual Mode yang memungkinkan pengguna mengatur parameter sesuai kebutuhan.
Selain itu, tersedia Continuous Drainage System yang memungkinkan air hasil kondensasi dibuang secara otomatis melalui selang tanpa perlu mengosongkan tangki secara manual. Pengoperasian perangkat didukung layar sentuh yang menampilkan kondisi kelembapan ruangan secara real time dan desain yang dirancang mampu beroperasi selama 24 jam.
"Setiap industri memiliki standar kelembapan yang berbeda. Dengan pengendalian yang tepat, risiko material, penurunan kualitas produk, hingga gangguan operasional dapat diminimalkan," kata Andri.
Ia menambahkan, penggunaan dehumidifier industrial tidak terbatas di museum. Gudang, pabrik, laboratorium, pusat data, ruang arsip, hingga industri farmasi serta makanan dan minuman juga membutuhkan pengendalian kelembapan agar kualitas produk maupun aset tetap terjaga.
Di sektor logistik, perangkat tersebut membantu mencegah pembusukan komoditas, kerusakan kemasan, dan korosi barang. Sementara di sektor manufaktur, dehumidifier digunakan untuk menjaga stabilitas udara pada lini produksi, terutama industri elektronik dan otomotif.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.