RAKYAT SULTRA.id-Sustainability atau keberlanjutan sering dipahami sebatas isu lingkungan, energi, atau program sosial. Padahal, konsep ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Keberlanjutan juga mencakup konteks organisasi yang berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan membangun budaya kerja, mendorong inovasi, mengambil Keputusan. Selain itu, menjaga kinerja bisnis dalam jangka panjang.
Ketua Program Studi Magister Manajemen Unika Atma Jaya Thomas Ulun Ismoyo menjelaskan, menghadapi persaingan ketat, pemahaman terhadap Organizational Sustainability menjadi salah satu faktor yang memperkuat perusahaan untuk terus beradaptasi dan bertumbuh.
Menurut dia, berdasar Harvard Business Review (2025), memenuhi komitmen keberlanjutan akan menuntut perusahaan untuk mentransformasi model bisnis dan arsitektur organisasinya dalam skala yang bahkan melampaui transformasi yang dipicu teknologi digital dan kecerdasan buatan.
”Namun, transformasi sebesar ini tidak akan berjalan tanpa satu faktor mendasar, yaitu manusia yang memimpinnya,” tutur Thomas Ulun Ismoyo.
Bersamaan dengan hal itu, lanjut dia, dilansir dari Deloitte (2026), keunggulan kompetitif kini tidak lagi didorong diferensiasi teknologi. Melainkan oleh keunggulan sumber daya manusia.
”Teknologi, seperti Artificial Intelligence (AI) dapat ditiru, tetapi manusia tidak. Organizational Sustainability sangat bergantung pada kualitas serta keunggulan kompetensi sumber daya manusia yang menjalankannya,” papar Thomas Ulun Ismoyo.
Akar Masalah dalam Organizational Sustainability
Menurut Balanced Scorecard Institute (2024), hingga 90 persen strategi organisasi tidak berhasil dieksekusi dengan sukses. Sebab, kegagalan kepemimpinan dalam mengimplementasikan strategi secara efektif.
”Angka 90 persen ini menunjukkan bahwa masalah terbesar organisasi sering terjadi karena sumber daya manusia tidak dapat melakukan eksekusi dengan baik,” ungkap Thomas Ulun Ismoyo.
Kemampuan memimpin transformasi Organizational Sustainability menjadi salah satu kompetensi paling kritis bagi para profesional. Kemampuan ini, lanjut Thomas Ulun Ismoyo, menunjukkan kapasitas berpikir seseorang, keahlian membaca dinamika bisnis jangka eputus, dan kesiapan mengambil eputusan saat menghadapi sebuah masalah.
Bangun Kompetensi Pemimpin Masa Depan di Program Magister Manajemen
Dia menyatakan, pengembangan kompetensi kepemimpinan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman praktis di dunia kerja. Program Studi Magister Manajemen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) hadir sebagai ruang pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat kapasitas berpikir strategis dan kepemimpinan berkelanjutan secara sistematis dan terstruktur.
”Prodi Magister Manajemen Unika Atma Jaya telah meraih akreditasi Unggul dari LAMEMBA dan berkomitmen untuk mencetak pemimpin yang mampu mengelola organisasi secara berkelanjutan,” ujar Thomas Ulun Ismoyo.
”Komitmen tersebut kami wujudkan melalui kurikulum yang mengintegrasikan prinsip-prinsip sustainability dalam berbagai mata kuliah, seperti Business Strategy and Sustainability Management, Sustainability Marketing Management, serta mata kuliah unggulan lainnya. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa dibekali kompetensi yang relevan untuk menghadapi tantangan dan dinamika dunia organisasi sekaligus berkontribusi dalam mendukung pencapaian organisasi yang berkelanjutan,” imbuh dia.