Jumat, 28 Agustus 2026

Prof La Sara: Timbulkan Kenaikan Permukaan Laut pada Tahun 2100

Photo Author
Redaksi, Rakyat Sultra
- Selasa, 14 Februari 2023 | 09:14 WIB
 Rektor ITK Buton, Prof Ir H La Sara MS PhD (kedua dari kiri) saat bersama para narasumber lainnya, belum lama ini, di Jakarta.
Rektor ITK Buton, Prof Ir H La Sara MS PhD (kedua dari kiri) saat bersama para narasumber lainnya, belum lama ini, di Jakarta.

KENDARI, rakyatsultra.id- Keprihatinan saat ini selain krisis ekonomi global melanda seluruh dunia adalah perubahan iklim global, yang dampaknya sangat menakutkan dan tidak berbatas di seluruh dunia, dimana bisa memengaruhi seluruh sumberdaya kehidupan mahluk hidup termasuk sumberdaya alam tak hidup.

Hal ini diungkapkan Rektor ITK Buton, Prof Ir H La Sara MS PhD, belum lama ini di Jakarta, saat menjadi narasumber dan pakar, dalam topik kebijakan penataan laut Indonesia. Bahkan menurutnya, seluruh negara saat ini menaruh perhatian serius mengatasi dampak yang mungkin timbul melanda kehidupan manusia di negaranya masing-masing.

Tindakan nyata yang harus dilakukan adalah, masih kata dia, pencegahan bencana iklim ekstrim karena pemanasan global. Laporan Panel Perubahan Iklim (The Intergovernmental Panel on Climate Change = IPCC) pada tahun 2018 memberikan peringatan tentang dampak pemanasan global ini. Dalam “Perjanjian Paris” disebutkan target yang harus dipenuhi adalah maksimal kenaikan suhu pada 1,5oC.

"Diprediksi bahwa jika pemanasan global mencapai +2°C pada tahun 2050, maka dampaknya adalah kerugian masif dalam sektor ekologi, ekonomi, sosial, dan politik, tidak terkecuali Indonesia sebagai negara kepulauan diperkirakan akan menderita kerugian ekonomi yang sangat tinggi. Adaptasi akan menjadi semakin sulit seiring dengan percepatan perubahan iklim," ucapnya.

La Sara melanjutkan, laporan terbaru pada Januari 2023 dari World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan, suhu rata-rata global pada 2022 mencapai 1,15°C. Diprediski tingkat pemanasan global serta tren perubahan iklim ini masih akan tetap berlanjut, dan dikhawatirkan angkanya > 1,5°C sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Kenaikan suhu global ini menimbulkan kenaikan permukaan laut pada tahun 2100 lebih tinggi daripada yang terjadi pada tahun 2014 akibat pencairan es di Antartika.

"Dampaknya terhadap sumberdaya wilayah pesisir dan lautan sangat besar, baik menyangkut kehidupan organisme, kerusakan ekosistem penting seperti coral reef, padang lamun, dan hutan mangrove, kerusakan bangunan fisik (infrastruktur) di wilayah pesisir, dan lain-lain," paparnya.

Lebih lanjut rektor ini menerangkan, perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) melalui kebijakan Sustainable Development Goals (SDGs) di antaranya SDG-14 yang berkaitan dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan dan laut (life below water atau ekosistem laut), merumuskan target spesifik seperti mengurangi dampak pencemaran laut, menghentikan praktik kegiatan perikanan yang merusak, mengelola ekosistem laut dan pesisir, dan menyediakan akses untuk nelayan skala kecil.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X