Jumat, 28 Agustus 2026

Kalaksa BPBD: Kendari Berstatus Siaga Darurat Bencana

Photo Author
Agus Syahlan Tohamba, Rakyat Sultra
- Kamis, 19 Oktober 2023 | 13:24 WIB
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Drs. Fadlil Suparman.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Drs. Fadlil Suparman.

KENDARI,rakyatsultra.id – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Drs. Fadlil Suparman menyampaikan bahwa akibat fenomena El Nino yang melanda saat ini, Kota Kendari sejak Tanggal 12 Oktober 2023 telah ditetapkan berdasarkan SK Wali Kota Kendari dalam status Siaga Darurat Bencana.

Pasalnya, sejak bulan September hingga Oktober 2023 terdapat 13 Kelurahan di Kota Kendari kekeringan yang mengakibatkan kekurangan air bersih, bahkan ratusan hektar persawahan Kota Kendari di Amohalo, Nanga-Nanga juga kering dan gagal panen akibat cuaca ekstrem ini.

 

“Mungkin saya hanya ingin mempertegas saja, dan sekedar menyampaikan terkait dengan kesamaan persepsi kita tentang penetapan status. Data dari BMKG tetap menjadi acuan, tetapi juga BMKG juga punya panduan, punya acuan juga tentang kategori waspada, siaga atau awas, tetapi tidak serta merta bahwa di daerah juga, misalkan status BMKG waspada, di daerah juga ditetapkan waspada, tidak seperti itu juga, karena ini harus disesuaikan dengan kondisi riil di wilayah,”ungkapnya saat melaporkan situasi Kita Kendari dalam Rakor Kalaksa BPBD Se Sultra di Ruang Sekda Provinsi Sultra, Rabu (18/10).

Lanjutnya, ketetapan status di suatu daerah, entah itu siaga atau tanggap darurat, tadi sudah disampaikan bahwa ini kan hasil rapat dari masing-masing daerah dengan melibatkan forkopimda, sehingga tadi ada kejadian bahwa suatu daerah menurut BMKG adalah mungkin waspada, tetapi dia sudah menetapkan tanggap darurat, kira-kira mungkin kondisi wilayahnya memungkinkan untuk itu, dan itu adalah kesepakatan rapat bagi wilayah masing-masing.

“Saya juga memberi gambaran untuk Kota Kendari, di awal September, kami minta BMKG untuk membuat laporan tentang kondisi cuaca wilayah Kota Kendari. Sehingga Pj. Wali Kota Kendari mengeluarkan surat edaran kewaspadaan kepada masing-masing Camat dan Lurah terkait ancaman bencana Kekeringan. Di pertengahan Oktober, ketika ekskalasi ancaman bencana ini semakin meluas. Pj. Wali Kota menyampaikan untuk kami mengadakan rapat di tanggal 12 Oktober, waktu itu masih sibuk-sibuknya kita dengan kegiatan Bulan PRB, Pj. Wali Kota memimpin rapat untuk membahas tentang status apapun kondisi pada saat tanggal 12 Oktober 2023 itu,” bebernya.

Sambung mantan Kadis Kominfo Kota Kendari ini, bahwa berdasarkan laporan masyarakat sudah mulai banyak keluhan akan kekurangan air bersih, kemudian kekeringan di persawahan Amohalo yang sudah mengalami kekeringan, bahkan sudah mengalami gagal panen.

“Sehingga berdasarkan rapat pada tanggal 12 Oktober 2023, kami menetapkan status siaga darurat bencana sesuai SK Wali Kota yang sudah kami sampaikan tadi. jadi baru berlaku beberapa hari. Karena yang kita juga lihat, bahwa didalam pedoman penetapan status kondisi siaga darurat bencana ini, juga agak-agak banyak persyaratannya, termasuk kalau penetapan darurat itu, saya lihat dia harus mengancam kehidupan dan penghidupan, dan ini harus terpenuhi dua-duanya. Jadi saya masih (siaga) walaupun memang sudah mengancam penghidupan, artinya sudah banyak kehidupan di masyarakat, mungkin yang terancam disitu, atau bahkan sudah terganggu, tetapi saya memang, saya anggap belum menetapkan status tanggap darurat, kita cukup masih siaga,” terangnya.

Kata Fadhil, di kondisi sekarang ini pun, kami sudah membentuk posko dan ini melibatkan semua unsur yang kira-kira bisa kami gunakan dalam hal, ketika terjadi dampak yang berkepanjangan.

“Contoh sampai hari ini, sejak tanggal hari Senin kemarin, kami sudah mensuplai air bersih, karena memang permintaan masyarakat akan air bersih dan air untuk persawahan, hanya persawahan sudah tidak bisa kami jangkau, karena kondisinya sudah agak parah, karena air dari Sungai Wanggu, kami mungkin harus mengunakan mesin penarik air untuk mengairi sawah. Bantuan ini, Dinas Pertanian sudah mengupayakan untuk bagaimana mengupayakan pompa dengan kapasitas minimal 6 inci katanya, sementara pipa alkon di BPBD itu hanya 2 inci atau 2 setengah inci saja untuk mengairi sawah yang ada di sana,” imbuhnya.

Fadhil mengatakan jadi kami hanya ingin mempertegas saja, bahwa status daerah yang kami tetapkan adalah siaga darurat bencana dan kita berharap musim hujan segera tiba, agar ancaman kekeringan tidak terlalu meluas seluruh wilayah kelurahan.

 

“Sampai hari ini, kami menerima 13 Kelurahan yang kekurangan air bersih dengan 545 Kepala Keluarga (KK), jadi ini yang menjadi target kami untuk penyaluran air bersih di masyarakat yang dimaksud,” ucapnya.

Lanjutnya lagi, kami juga berterima kasih kepada BPBD Provinsi Sultra yang sudah membantu kami, satu unit mobil tangki, kemudian dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sultra yang telah membantu dua unit mobil tangki, dan dua tandon, dan itu sudah kami salurkan kepada masyarakat, sehingga sekarang kami hanya tinggal mendrop air bersih di titik-titik tertentu.

“Terima kasih juga kepada teman-teman wartawan media, saya lihat tadi malam mereka sudah membuat list sumbangan air bersih dan sudah 51 tandon yang sudah terkumpul, dan mungkin hari ini mereka tinggal menunggu informasi dari kami, dimana daerah yang akan disalurkan kepada 200 KK di Kecamatan Baruga,” pungkasnya. FJR/RS

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Agus Syahlan Tohamba

Tags

Terkini

Terpopuler

X