Mereka fokus pada akumulasi, bukan semata-mata karena mereka serakah, tetapi karena mereka mengejar rasa "cukup" dalam diri mereka.
Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa beberapa orang berpenghasilan besar masih ragu membeli kesenangan sederhana untuk diri mereka sendiri, carilah pesan-pesan awal tersebut.
Mungkin mereka tumbuh dalam keluarga yang memuji kinerja di atas segalanya. Dalam lingkungan itu, menghabiskan uang untuk kegiatan yang menyenangkan mungkin terasa tidak penting daripada memuaskan.
3. Terlalu sering terpapar mentalitas kelangkaan
Mentalitas kelangkaan melampaui menyaksikan ketidakstabilan keuangan. Ini adalah keyakinan yang mengakar bahwa sumber daya (waktu, uang, bahkan peluang) terbatas dan harus diamankan sebelum hilang.
Beberapa anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang mengatakan 'tidak pernah cukup' yang membawa pola pikir itu hingga dewasa, meskipun gajinya stabil.
Ironisnya, orang-orang dengan pola pikir kelangkaan cenderung menimbun barang atau dana dengan cara yang berbeda, "Saya harus menyimpan semuanya, untuk berjaga-jaga."
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka dibimbing oleh tangan tak terlihat yang mendorong mereka untuk melestarikan setiap sumber daya daripada menikmatinya.
Sekalipun sekarang mereka sudah jauh dari kata bangkrut, sisa-sisa emosi masih ada, memberi tahu mereka untuk bertahan dan membelanjakan uang hanya bila perlu.
4. Melihat orang terkasih terlilit hutang
Utang dapat menimbulkan dampak buruk pada rumah tangga. Beberapa di antara kita tumbuh sambil menyaksikan orang tua atau saudara kandung berjuang memenuhi pembayaran pinjaman atau tagihan kartu kredit.
Pengalaman itu dapat menanamkan rasa enggan yang mendalam untuk berutang kepada siapa pun. Anak-anak mengamati bagaimana stres akibat utang menyebabkan pertengkaran atau masalah kesehatan.
Beberapa orang bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam perangkap yang sama. Mereka menyamakan pengeluaran dengan potensi utang, bahkan ketika mereka memiliki dana untuk membayarnya secara penuh.
Namun, rasa takut terjebak itu kuat. Begitu kuatnya sehingga dapat mendorong orang-orang berpenghasilan besar untuk menghindari pengeluaran tertentu, tidak peduli seberapa masuk akal pembelian tersebut.
5. Mengalami tunjangan terkendali atau penganggaran ketat