Beberapa hari sebelumnya diberitakan ribuan pemudik ke wilayah kepulauan di Sultra memadati Pelabuhan Nusantara Kendari, Senin (24/3/2025) siang. Program mudik gratis ini dibiayai sepenuhnya oleh dana pribadi Gubernur Sultra ASR.
Menurut Kadis Perhubungan Sultra, Dr. Muhamad Rajulan, program mudik gratis itu memberangkatkan 8.062 penumpang dan 2.300 kendaraan roda. Dibagi dalam dua gelombang karena tingginya animo masyarakat yang mendaftar secara online.
Selain via laut, mudik gratis melalui darat menggunakan bus Damri dengan rute Kendari-Mawasangka, Ereke, dan Baubau disediakan sekitar 10 unit bus. Total anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp Pada s1 miliar yang bersumber dari dana pribadi Gubernur Sultra.
Irma, salah seorang pemudik gratis tujuan Baubau, mengaku sangat terbantu dengan program mudik gratis yang digelar Gubernur ASR. Mahasiswi di perguruan tinggi negeri di Kota Kendari, mengungkapkan bahwa biasanya ia dan adiknya harus mengeluarkan dana hingga Rp500.000 untuk membeli tiket kapal cepat.
“Untuk sewa kapal cepat ke Baubau satu orang dikenakan biaya Rp249 ribu, setelah itu kami harus naik kapal lagi ke kampung di Talaga, Buton Tengah dengan ongkos kapal Rp150 ribu. Perjalanan kapal dari Baubau ke Talaga memakan waktu hingga 5 jam. Kami sangat bersyukur dengan adanya program mudik gratis Gubernur Sultra,” ujarnya seperti dikutip kompas.com (25/3/2025).
Kenapa merogoh kocek pribadi?
“Kalau pake anggaran APBD biasanya banyak yang ribut. Apalagi saya sudah bilang, ingin jadi gubernur untuk bersedekah, dan inilah saatnya saya buktikan,” kata Gubernur ASR.
Pada saat momen menghadiri acara di Sulsel, provinsi tetangga, diam-diam Gubernur ASR menemui koleganya Gubernur Andi Sudirman Sulaiman (ASS). Isi pertemuan: menjajaki pembukaan jalur atau rute baru yang menghubungkan kedua daerah.
Yakni pembukaan rute penerbangan Bone-Kendari. Bentuk kerjasamanya kolaboratif. Untuk pembiayaan, kedua provinsi berbagi anggaran dengan pola alokasi 70% ditanggung Sultra dan 30% Sulsel.
Berdasarkan data, disebutkan ada sekitar 500 ribu warga Kendari memiliki akar dari wilayah Bosowasi (Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai), sehingga konektivitas antara dua daerah ini dinilai sangat relevan.
Untuk mewujudkan rencana itu, Sulsel akan fokus mengaktifkan kembali Bandara Arung Palakka di Bone. Keduanya sudah menghitung minat masyarakat terhadap rute Bone–Kendari yang cukup tinggi.
“Banyak yang minta rute Bone–Kendari dibuka. Karena sekarang angkutan feri tinggi. Jadi tidak dapat tumpangan. Kemarin penuh terus (Bone–Kendari), tapi justru ke Makassar kurang. Bone–Kendari ini banyak,” ungkap Gubernur Sulsel ASS.
Selain jalur udara, Gubernur ASR juga mengupayakan rencana pengembangan transportasi laut. Dengan pola kerjasama kolaboratif yang sama. Tak hanya itu, rencana pengoperasian pesawat jenis “seaplane” juga masuk dalam pembahasan. Apalagi dengan sekitar 70 pulau berpenghuni di wilayahnya, penggunaan seaplane dinilai sangat potensial untuk menjangkau daerah terpencil.
Di era kolaborasi saat ini memang dibutuhkan pemimpin yang kuat diperlukan untuk mendorong transformasi dan membangun tim dengan integritas dan inovasi.
Respons publik atas kebijakan Gubernur ASR yang menonjol selama ini tentu saja Yang akan ikut menentukan level kinerja dan tingkat kepuasan masyarakat. Sejauh ini dinamika politik lokal masih adem ayem. Mungkin enam bulan atau setahun kedepan baru terdengar sayup riak yang menjadi ujian kepemimpinan Gubernur ASR bersama wakilnya Hugua.
Artikel Terkait
Usai Dilantik, Gubernur dan Wagub Sultra, ASR-Hugua Siap Tindak Lanjut Arahan Presiden