Oleh
RUSMAN MADJULEKKA
(Wartawan Senior)
SUDAH lama ingin menulis tentangnya. Selalu tertunda. Saya tak punya materi yang memadai. Namun satu alasan yang buat saya bernyali. Karena sama-sama satu almamater: alumni SMA 3 Makassar. Saya adik lettingnya.
Media aktif memberitakannya pasca terpilih sebagai kepala daerah.Setidaknya berdasarkan hitung cepat.Televisi menayangkan dokumentasi potongan kisah perjalanan karirnya. Berlanjut kian masif pasca pelantikan dirinya di Istana Negara Jakarta bersama kepala daerah lainnya.
Memang saya kenal dia. Melalui pemberitaan dan link berita yang kerap dikirimkan di grup whatsapp. Tapi belum tentu ia kenal saya. Kalau pun pernah beberapa kali bertemu, belum tentu ia masih ingat saya.
Pertemuan terakhir kami belum lama ini. Seminggu pasca lebaran Idulfitri 2025. Itu pun di perhetalan mubes XII kerukunan keluarga sulawesi selatan (KKSS) yang dirangkaikan juga dengan pertemuan akbar saudagar bugis makassar (PSBM) di Makassar, Sulawesi Selatan, 9-11 April 2025. Saya tak kebagian kesempatan untuk sekedar menyalami dan menyapanya. Banyak yang mendekatinya, dan mengajak berfoto. Sebelum itu pernah bertemu beberapa tahun silam di Jakarta. Di sebuah acara. Saat itu ia masih menjabat Panglima Kodam XIV/Hasanuddin.
Namanya: Andi Sumangerukka. Biasa ditulis dengan akronim ASR. Pria kelahiran Makassar 11 Maret 1963 kerap disapa Pak Andi, ada juga yang panggil Pak Ukka, atau Pak Haji. Ia tak keberatan.
Pensiunan jendral TNI AD bintang dua suami Arinta Nila Hapsari dan ayah dua anak ini “menyemplungkan” diri ke dunia politik. Melanjutkan pengabdian jilid dua. Hanya medannya yang berbeda. Sebagaimana adagium: _Old soldier never die, they just fade away_ . Inilah arti penting dari seorang prajurit. Seorang prajurit tidak akan pernah mengenal kata pensiun. Seorang prajurit akan selalu siap kapanpun negara membutuhkan. Seorang prajurit, pasti memahami sepi ing pamrih, rame ing gawe. Seorang prajurit akan selalu mengutamakan pengabdian untuk rakyat dan negara.
ASR selain dikenal sosok tentara, juga mengalir “darah biru” elit pemimpin di tubuhnya. Ia anak Mayor (Purn) TNI H Andi Baso Syam Daud dan ibunya Hj Andi Azizah Petta Mine. Ayahnya pernah menjabat camat di Wawonii - saat ini Konawe Kepulauan (Konkep)- hingga kepala dinas di Kendari. Mendiang Andi Baso juga pernah jadi Ketua DPRD Kendari pertama, di masa era 1970-1975 dan 1988-1992.
Pada 20 Februari 2025 dirinya dilantik di Istana Negara Jakarta oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berpasangan dengan Wagub Hugua. Setelah memenangkan kontestasi politik Pilkada serentak.
Saya coba tengok medsos. Tak banyak bisa didapat. Ia bukan tipe kepala daerah yang suka bikin konten apa yang sudah dikerjakan. Seperti KDM di Jawa Barat misalnya atau yang lainnya. Yang banyak hanya postingan terkait kegiatan seremonial yang diunggah admin akun official pemda.
Beruntung saya bertemu beberapa warga Sultra pada suatu momen Halal Bil Halal (HBH) dan reuni akbar alumni FISIP Universitas Hasanuddin, sabtu (12/4/2025) di kampus Tamalanrea. Dari mereka dengan bermacam latarbelakang profesi saya memperoleh banyak bahan tambahan yang membuat saya percaya diri menulis. Selalu ada jalan kalau memang sungguh-sungguh ingin menulis ASR yang selalu tertunda.
“Gimana Pak Gubernur baru?” tanya saya membuka obrolan.
“Wah…beliau itu disenangi masyarakat.Mengapa?Karena mereka merasa sangat dibantu terutama saat mudik lebaran kemarin. Bayangkan ditengah kesulitan, terbatasnya moda transportasi dan mahalnya tiket, para warga dari Kendari ke berbagai destinasi kampung halaman di pelosok Sultra difasilitasi angkutan mudik gratis. Malah dikasih lagi oleh-oleh sembako dan uang THR. Semua biaya itu murni dari kantong pribadi beliau tanpa APBD,” cerita Muliadi Mau, warga asal Buton Sultra yang bekerja sebagai dosen di Unhas.
Artikel Terkait
Usai Dilantik, Gubernur dan Wagub Sultra, ASR-Hugua Siap Tindak Lanjut Arahan Presiden