♦ Kisah Mantan Atlet Berprestasi
TIDAK ada satupun yang bisa menyangka, atlet pelari jarak menengah dengan segudang prestasi dan membawa nama baik Sultra, baik ditingkat daerah maupun ditingkat nasional pada era tahun 80-an, kini berprofesi sebagai pembantu rumah tangga.
Samria itulah namanya. Wanita kelahiran Guali tahun 31 Desember 1979 itu merupakan salah seorang atlet berprestasi Sultra pada cabang olahraga atletik (pelari) putrid. Dia pernah bersinar pada tahun 1986-1993.
Ia lebih dikenal sebagai spesialis lari jarak menengah untuk jarak 1.500 meter, 1.800 meter, 3.000 meter, dan 5.000 meter.
Awal karir olahraganya dimulai pada usia 10 tahun. Ketika itu dia sudah membawa nama baik daerah dengan meraih medali perak pada ajang Pekan Olahraga Antar Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) di Jakarta yang diikuti oleh perwakilan pelajar seluruh Indonesia pada tahun 1986.
Kemudian, pada tahun 1987, Sam sapaan akrabnya, berhasil meraih medali emas pada salah satu even nasional yang diselenggarakan di Surabaya.
Pada usia 13 tahun, Samria berhasil menyabet empat medali emas pada ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) untuk Kabupaten Muna. Tepatnya lari jarak 1.500 meter, 1.800 meter, 3.000 meter, dan 5.000 meter. Ketika itu, Provinsi Sultra baru empat kabupaten yakni Kabupaten Muna, Buton, Kendari, dan Kolaka.
Pada usianya yang beranjak 15 tahun, Samria mewakili Sultra dibawah asuhan pelatih La Moja. Ia mengikuti even-even resmi lainnya, diantaranya kejuaraan Bali Tanki dan Kalimantan Tanki yang mana beberapa negara tetangga juga ikut andil dalam kejuaraan itu. Misalnya, Australia, Malaysia, Myanmar, Brunei Darusalam, dan Singapura.
Selain masuk 10 besar dan berada pada urutan kelima pada kejuaaran Bali Tanki, ia juga berhasil meraih juara II pada Kalimantan Tanki untuk Sultra.
“Banyak kejuaraan yang saya ikuti saat itu dan Alhamdulillah selalu masuk tiga besar, tapi saya lupami apa-apa saja nama kejuaraannya karena ada di kampung semua piala, piagam, dan medalinya,” ungkapnya.
Kejuaraan terakhir yang diikutinya, yakni mewakili Sultra pada Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk lari jarak 3.000 meter pada tahun 1993 di Jakarta dan berhasil masuk final serta mendapatkan medali dan piagam penghargaan.
Pascakejuaraan tersebut, dia memilih untuk gantung sepatu dalam dunia cabang olahraga atletik dan memilih untuk menikah. Itupun, pengunduran dirinya semua bukan tanpa alasan. Salah satunya, menjadi atlet tidak menjanjikan masa depan yang cerah. Perhatian pemerintah dalam menjamin kesejahteraan para atlet berprestasi sangat kurang.
Setelah gantung sepatu, wanita yang mampu menempuh lari jarak 5.000 meter hanya dengan waktu 18 menit ini, mulai menjalani masa-masa sulit dalam kehidupannya. Lulusan Sekolah Guru Olahraga (SGO) ini mencoba berkali-kali mengikuti tes pegawai, namun berkali-kali pula nasib itu tak berpihak kepadanya.
Pada akhirnya, pada tahun 1994 dia memilih untuk menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) untuk membantu suaminya yang tengah merantau ke Malaysia untuk menafkahi kedua anaknya.