Sementara penurunan terdalam terjadi pada sektor pertambangan yang turun sebesar 23,93 persen.
“Utamanya disebabkan penurunan ekspor batu bara, bijih tembaga, dan bahan mineral lainnya, serta bijih seng,” jelas Amalia.
Di sisi lain, BPS turut mencatat neraca perdagangan RI yang surplus sebesar 2,02 miliar dolar (Rp31 triliun) pada Januari 2024.
Meski masih surplus, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan Desember 2023 yang surplusnya mencapai 3,29 miliar dolar (Rp51 triliun).
“Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 45 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” tutur Amalia. RMOL/RS