Produk herbal biji kelor memang sudah cukup baik. Baik komposisi maupun manfaat. Namun menurut Anca masih adan satu kekurangannya. Sebagai orang yang berpengalaman di Korea Selatan, Anca melihat kelemahan herbal biji kelor Ainun adalah pada hasil sangrai.
Hasil sangrai kata Anca masih kelihatan hitam seperti kopi. Tetapi ini masih bisa dimaklumi karena cara sangrai masih manual. Bainun kata Anca butuh mesin roster khusus sangrai. Untuk mendapatkan ini butuh dana banyak.
"Sekitar Rp 100 juta untuk hasil yang 10 kilogram. Pemkab Muna atau rumah BUMN PLN Muna mungkin bisa membantu, sehingga produksinya bisa besar. Dan komposisi hasil sangrai juga tidak menghilangkan kandungan alami biji kelor. Menggunakan mesin roster sangrai ini, bisa mendapatkan aroma harum. Aroma biji kelor juga dapat, " tutur Anca.
Anca bilang herbal biji kelor kini sudah dikenal bukan hanya di Sultra. Pulau Jawa, terutama Jakarta banyak yang memesan. Makassar juga begitu. Padahal promosinya baru dari teman ke teman. Ke depan, jika orang mengetahui manfaat herbal biji kelor ini, orang-orang akan menyerbu untuk beli. Pada saat itu, Bainun akan kewalahan produksi. Maka, pengadaan mesin roster itu menjadi solusi utama. (*)