KENDARI - Banyak warga di Kelurahan Jati Mekar, Gunung Jati, mesti mendapat fasilitas air bersih. Meskipun sudah ada sumber air bersih berupa pipa air dan mesin, ternyata belum maksimal. Pasalnya, air bersih ini ternyata masih dikuasai oknum masyarakat.
Hal ini terungkap saat penelurusan anggota DPRD Kota Kendari, La Ode Azhar dan Abdul Rasak. Diakui sejumlah warga, untuk mendapat fasilitas air bersih, rata-rata setiap kepala keluarga mesti mengeluarkan anggaran uang muka pemasangan pipa sebesar Rp 500 ribu. Ditambah dengan iuran sebesar Rp 50-100 ribu perbulan, dan ini sangat memberatkan warga.
"Kita harus pasang air kalau tidak yaa tidak minum air bersih. Tapi, bayarannya mahal setiap warga. Kami kesulitan dan memilih mengambil air di sumur yang jauh dari rumah," kata Kamaruddin, salah satu warga Jati Mekar.
Pihak DPRD Kota Kendari, melalui ketua DPRD Abdul Rasak, menyatakan pihaknya sudah melihat sejumlah kekurangan ini. Program sumur bor ini, dinilai perlu bagi warga karena warga Gunung jati yang berada di daerah ketinggian.
"Dalam waktu dekat, dua titik sumur bor akan diadakan karena ini yang menjadi kebutuhan utama. Selain itu, kami akan melihat kebutuhan warga terkait jalan setapak. Namun, itu baru akan dibahas pada anggaran perubahan 2016," kata Abdul Rasak.
Sementara, La Ode Azhar menyatakan saat ini kebutuhan akan jalan setapak di wilayah Jati mekar memang perlu. Sebab, akses jalan masyarakat daerah pegunungan, sulit tanpa jalan yang bagus.
"Kalau hujan, jalan di gunung jati yang tidak ada setapaknya licin karena jalan dilalui air mengalir. Tahun ini, rencana pembangunan jalan setapak di Jati Mekar kami usulkan untuk pembangunan. Namun, bertahap dan tidak bisa semuanya, sebab sejumlah titik di Kota Kendari juga memerlukan jalan setapak," kata La Ode azhar. (rs)