Unaaha – Indikasi serbuan Tenaga Kerja Asing asal Tiongkok ke Kawasan Mega Industri Morosi Kabupaten Konawe tak sepenuhnya benar. Pintu Bandara Haluoleo rupanya hanya menjadi pintu masuk. Kawasan Industri Morowali-lah tempat para pekerja asing berlabuh.
Hal ini diutarakan Bupati Konawe usai bertandang ke Kantor BPK Perwakilan Sultra pekan lalu. Kata dia, Bandara Haluoleo selama ini hanya dimanfaatkan sebagai jalur transit masuk bagi para tenaga kerja asing tersebut.
Kery sendiri mengaku heran isu yang menyebutkan Morosi menjadi penampung ribuan TKA Tiongkok. Pasalnya, sepengetahuan mantan Ketua DPRD Konawe itu, pekerja asing di Morosi hanya mencapai angka 400-an orang.
“Katanya mereka itu semua itu ke Konawe. Padahal Sultra itu hanya tempat transit. Tujuannya ke Morosi. Yang ada di Konawe hanya 400-an. Itupun pekerja teknis,” aku Kery.
Menyangkut status, Kery menyatakan mustahil pekerja asing yang masuk melalui jalur Bandara Udara Haluoleo tak mengantongi dokumen resmi alias ilegal.
“Berapa bandara yang dilewati. Ohh disana itu ketat. Paspor dan dokumen mesti lengkap. Kalau ilegal mana mungkin lewat pesawat. Kecuali mereka lewat perahu atau lewat darat masuk kesini kayak pengungsi yang banyak di tivi tivi. Saya sempat tanya juga memang tujuan mereka ke Morowali,” jelasnya.
Sebagai Bupati dirinya sama sekali tak punya kewenangan untuk menutup arus mobilisasi TKA yang menggunakan Konawe sebagai jalur transit menuju Morowali. Otorisasi itu berada ditangan Kantor Imigrasi dan pemerintah pusat.
“itu pemerintah pusat punya kewenangan. Imigrasi. Kalau orang mau ke Morowali atau kemana lewat bandara masa kita yang mau tahan,” cetusnya.