Selaras dengan program pemerintah yang kini menggaungkan pencegahan stunting, Agnes menekankan protein hewani penting untuk melindungi anak dari stunting. Sebab, stunting paling banyak terjadi di usia tiga bulan hingga anak berusia dua tahun.
“Ini selain karena kekurangan gizi kronis, ibu tidak membawa anak ke posyandu. Jadi tidak dipantau tumbuh kembangnya. Di buku KIA ada grafik, jadi ada yang namanya weight faltering. Kalau berat badannya tidak naik dua tiga bulan berturut-turut itu harus diintervensi, itu cara efektif untuk mencegah stunting,” ujarnya.
Hal lain yang Agnes sebutkan untuk menunjang proteksi pada anak dari stunting, adalah menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, menjalankan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), melanjutkan ASI eksklusif sampai anak berusia dua tahun agar anak tidak mudah sakit.
Agnes mengingatkan selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), semua orang tua harus terus memantau tumbuh kembang anak dengan jeli. Berat badan anak yang terus menurun, dikhawatirkan akan menyebabkan anak menjadi stunting dan mempengaruhi produktivitasnya.
“Stunting itu dia adalah malnutrisi kronis, jadi hubungannya sama gizi yang berkepanjangan, kata kuncinya di sana dan akibat dari infeksi berulang. Itu yang membuat tubuhnya pendek, IQ-nya turun, sakit-sakitan dan ke depannya obesitas, juga terkena penyakit metabolik tadi. kalau (pendek) karena genetik mereka tidak stunting,” katanya.
Sebelumnya, terdapat sejumlah pemberitaan yang mengatakan kalau masyarakat NTB menggunakan cacing laut yang didapat secara melimpah dari Festival Bau Nyale, untuk memenuhi asupan protein hewani pada anak. Dokter Spesialis Gizi Klinik Alia Hospital Jakarta Nurul Ratna Mutu Manikam mengatakan kandungan protein hewani pada cacing laut bisa mencapai 43,84 persen terhadap beratnya.
Kandungan protein hewaninya bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam 12,2 persen dan susu sapi sekitar 3,5 persen. RS