RAKYAT SULTRA.id-Nama Arya Wedakarna alias AWK kembali menjadi perhatian publik setelah dirinya diduga melakukan intimidasi terhadap seorang perempuan asal Lombok bernama Hilda atau RHW. Peristiwa tersebut disebut terjadi dalam proses mediasi antara Hilda dengan Ni Made Tiadnyani alias Bu Sintya, pemilik usaha Sintya Tailor di Badung, Bali.
Perselisihan antara Hilda sebagai pelanggan dan pemilik usaha jahit itu sebelumnya sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Dalam pertemuan tersebut, kehadiran AWK yang berstatus sebagai anggota DPD itu seharusnya membantu proses penyelesaian persoalan justru dinilai membuat Hilda berada dalam posisi semakin tertekan. Ia juga dituding melontarkan pernyataan yang dianggap menghina Hilda.
“Baju kamu sudah semua dikerjakan, salahnya beliau apa lagi. Emang ibunya salah, sekarang maunya gimana? Maunya (warungnya) ditutup?," seru AWK dalam video yang beredar, dikutip Minggu (16/8).
Potongan video tersebut kemudian mendapat perhatian masyarakat dan memicu perbincangan mengenai sikap AWK dalam persoalan tersebut.
Berkarier di dunia hiburan
Pria dengan nama lengkap Shri I Gusti Ngurah arya wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa lebih dahulu dikenal publik melalui kiprahnya di dunia hiburan sebelum terjun ke ranah politik.
Pada periode 1996 hingga 2004, Arya aktif sebagai model sekaligus penyanyi. Pada 1999, ia bergabung dengan grup vokal Fajar Bintang Indonesia (FBI), yang juga pernah diperkuat sejumlah figur yang kemudian populer, seperti Indra Bekti dan Roy Jordy.
Selain bermusik, Arya juga sempat tampil dalam beberapa produksi sinetron. Namanya tercatat dalam sejumlah judul, di antaranya Janji Hati dan Dancing With Colors. Ia juga pernah terlibat dalam produksi film pendek berjudul Angga.
Pernah memimpin sebuah Universitas
Setelah meninggalkan dunia hiburan, perjalanan karier Arya berlanjut ke bidang pendidikan. Ia pernah menjabat sebagai pimpinan Universitas Mahendradatta.
Dalam perjalanan tersebut, Arya juga pernah disebut sebagai doktor sekaligus rektor termuda oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).
Arya merupakan lulusan Universitas Satyagama Jakarta. Latar belakang keluarganya turut memiliki kaitan dengan perjalanan politik yang kemudian ditempuhnya. Sang ayah, Wedastera Suyasa, dikenal sebagai tokoh Marhaenisme di bali.
Arya kemudian bergabung dengan PNI Marhaenisme. Dari sinilah kiprahnya di dunia politik mulai berkembang.
Mengawali karier politik pada Pemilu 2004
Arya pertama kali mengikuti kontestasi politik pada Pemilu 2004. Kala itu, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan bali melalui PNI Marhaenisme. Namun, pencalonan tersebut belum berhasil membawanya menjadi anggota parlemen.
Sepuluh tahun berselang, Arya kembali mengikuti pemilu. Pada Pemilu 2014, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI dari Bali dan berhasil memperoleh 178.934 suara. Perolehan tersebut mengantarkannya terpilih sebagai senator dari Bali.